Ribuan Warga Padati Tradisi Undhuh-undhuh GKJW Sidorejo Kediri, Wujud Syukur yang Lestarikan Budaya

Suasana perayaan berlangsung meriah dengan penampilan 11 kelompok jemaat yang menyuguhkan berbagai tarian bernuansa budaya Jawa.

Anak-anak hingga orang dewasa tampil mengenakan busana adat lengkap, diiringi alunan gamelan yang semakin menguatkan nuansa tradisi.

Salah seorang panitia, Lulus Nugraheni, mengatakan perayaan tahun ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-128 GKJW Jemaat Sidorejo. Gereja yang berdiri pada 2 Juli 1898 itu semula berada di wilayah bernama Parerejo sebelum berganti nama menjadi Sidorejo pada 11 November 1936.

Menurut Lulus, Undhuh-undhuh merupakan hari raya persembahan di lingkungan GKJW. Tradisi tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen sekaligus mengajak jemaat berbagi berkat kepada sesama.

"Undhuh-undhuh ini rutin digelar setiap bulan Juli sebagai bentuk rasa syukur jemaat atas panen yang telah diterima. Ada juga acara pelelangan untuk persembahan syukur yang dibawa oleh kelompok-kelompok setelah acara ini," jelas Lulus di sela-sela acara.

Tradisi Undhuh-undhuh, lanjut Lulus, telah diwariskan sejak zaman para leluhur. Namun, sejak 2017 panitia GKJW Sidorejo Pare menambahkan prosesi arak-arakan gunungan sebagai upaya mengangkat dan melestarikan budaya lokal Kediri.

Setiap gunungan maupun hasil bumi yang dibawa kelompok jemaat menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan. Selain itu, tarian yang ditampilkan juga mengandung pesan moral, semangat kebersamaan, dan ajakan untuk senantiasa bersyukur.

"Di dalam kegiatan-kegiatan spiritual dan religi, kita bisa mengangkat budaya lokal yang kemudian diintegrasikan dan dikolaborasikan sehingga membuat kreativitas warga semakin tinggi. Di dalamnya juga ada pesan-pesan moral yang arahnya pada ucapan syukur kepada Tuhan," tutur Lulus.

Setelah penampilan seni dan doa bersama, rangkaian acara dilanjutkan dengan pelelangan parcel serta hasil bumi yang sebelumnya diarak dalam bentuk gunungan. Parcel berisi makanan, buah, hingga minuman ditawarkan mulai Rp75 ribu, sedangkan hasil bumi dilelang kepada penawar tertinggi. Seluruh hasil penjualan akan dipersembahkan untuk mendukung pelayanan gereja.

"Di desa ini semua saling mengenal, toleransi, guyup rukun dan gereja ini merupakan tempat mereka berkumpul bersama," ungkapnya.

Salah seorang peserta, Sheila, mengaku selalu menantikan pelaksanaan Undhuh-undhuh setiap tahun. Menurutnya, selain menjadi momen ibadah, tradisi tersebut juga mempererat kebersamaan antarwarga.

"Semoga doanya menjadi berkat untuk umat dan dilancarkan rezeki serta diberikan kesehatan untuk semua," harapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sidorejo, Bagus Krisdijanto, mengatakan keberadaan GKJW memiliki kaitan erat dengan sejarah panjang perkembangan Desa Sidorejo sejak masa kolonial Belanda.

Ia menjelaskan mayoritas warga Desa Sidorejo merupakan umat Kristiani. Berdasarkan sejarah yang diwariskan para sesepuh, gereja dibangun bersamaan dengan pembukaan lahan pertanian tembakau dan kopi di kawasan yang subur akibat aliran lahar Gunung Kelud.

Menurut Bagus, desa tersebut semula bernama Parerejo Gerojogan sebelum berganti nama menjadi Sidorejo pada 11 November 1936. Meski masyarakat memiliki latar belakang agama yang beragam, kehidupan yang rukun dan saling membantu dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun sosial tetap terjaga hingga kini.

"Tradisi Undhuh-undhuh ini menjadi salah satu bukti bahwa nilai religius dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya lokal," tandas Bagus. (uji/van)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: