Ringkasan Berita
- Guru Besar ITS Prof. Ipung Fitri Purwanti mengembangkan teknologi bioremediasi berbasis bakteri untuk memulihkan lingkungan yang tercemar dari berbagai kontaminan.
- Metode ini memanfaatkan bakteri yang diisolasi dari lokasi tercemar itu sendiri, sehingga lebih efektif karena bakteri telah beradaptasi dengan polutan.
- Penelitian menemukan bakteri Staphylococcus gallinarum yang diisolasi dari tanah tercemar limbah kerosin memiliki kemampuan resistensi dan degradasi yang lebih baik.
- Metode konsorsium bakteri (kombinasi beberapa jenis) tidak selalu lebih efektif daripada bakteri tunggal, tergantung pada kemampuan sinergi dan adaptasi masing-masing.
- Teknologi ini telah diuji di lapangan dan terbukti menurunkan kadar pencemar hidrokarbon, serta berpotensi untuk pencemar anorganik seperti logam berat.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Demi mengentas persoalan pencemaran lingkungan, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ipung Fitri Purwanti, ST, MT, PhD, mengembangkan teknologi bioremediasi berbasis bakteri untuk memulihkan lingkungan yang tercemar dari berbagai kontaminan.
Ipung menjelaskan bahwa bioremediasi merupakan metode pemulihan lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme. Selama lebih dari dua dekade menekuni bidang remediasi lingkungan, ia mengembangkan berbagai penelitian yang berfokus pada pemulihan tanah, air, hingga udara tercemar menggunakan bakteri biasa maupun bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman.
Lebih lanjut, riset Ipung diawali dengan mengisolasi bakteri yang secara alami telah hidup pada lokasi tercemar. Setelah diisolasi dan dikembangkan di laboratorium, bakteri tersebut dimanfaatkan kembali untuk menguraikan polutan pada lokasi lain dengan karakteristik pencemaran serupa.
“Proses ini lebih efektif karena memanfaatkan mikroorganisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan tercemar,” jelasnya, Senin (20/7/2026).
Dalam penelitiannya, Ipung memanfaatkan beberapa jenis bakteri seperti Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus gallinarum. Di antara keempatnya, Staphylococcus gallinarum menjadi temuan yang paling menarik karena berhasil diisolasi dari tanah yang tercemar limbah kerosin hasil pengolahan aspal.
“Bakteri tersebut memiliki kemampuan resistensi dan degradasi yang lebih baik dibandingkan beberapa bakteri lain.” ungkapnya.
Selain meneliti efektivitas bakteri tunggal, dia juga mengembangkan metode konsorsium bakteri dengan mengombinasikan beberapa jenis bakteri untuk mengetahui efektivitas proses remediasi. Menurutnya, kombinasi bakteri tidak selalu menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan penggunaan satu jenis bakteri saja. Hal tersebut bergantung pada kemampuan masing-masing mikroorganisme untuk saling bersinergi maupun beradaptasi terhadap polutan.
Hasil penelitian tersebut telah diuji pada skala laboratorium dan beberapa lokasi lapangan, termasuk kawasan kilang minyak di Sumatera. Pengujian tersebut menunjukkan bahwa bakteri mampu menurunkan kadar pencemar hidrokarbon pada tanah. Ipung mengatakan bahwa teknologi bioremediasi tidak hanya efektif untuk pencemar organik seperti minyak bumi, tetapi juga berpotensi diaplikasikan pada pencemar anorganik, seperti logam berat. (msn)










