Nurul Jadid (kanan) ketika memberikan pemahaman terkait kultur jaringan tanaman kepada mahasiswanya. (Ist)
BANGSAONLINE.com - Kekayaan dan diversitas flora membawa berbagai manfaat bagi manusia. Akan tetapi, pemanfaatan dan pemaksimalan produk hasil sumber daya tanaman masih dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Berangkat dari hal itu, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Nurul Jadid, memanfaatkan bidang ilmu bioteknologi untuk mengoptimasi produksi metabolit sekunder dalam tumbuhan.
BACA JUGA:
- Unik, Doktor ITS Rancang Sistem Deteksi Depresi Berdasarkan Riwayat Medsos
- Dosen ITS Gagas Penyembuhan Kanker Anak Melalui Pendekatan Multisensory Healing Model
- Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Unirow Tuban Kini Miliki Lima Profesor
- Barunastra ITS Luncurkan Kapal Otonom Terbaru, Siap Ikuti Lomba IRC di Florida
Profesor yang akrab disapa Jadid tersebut menuturkan, metabolit sekunder merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh tanaman. Senyawa ini memiliki peran penting dalam adaptasi dan interaksi ekologisnya.
Beberapa jenis metabolit sekunder yang dikenal antara lain alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan saponin yang memiliki peran dan potensi besar sebagai bahan dasar obat dan suplemen kesehatan.
Dalam hal ini, Jadid menjelaskan, senyawa ini memiliki beragam aktivitas biologis seperti antikanker, antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidan.
Sayangnya, proses ekstraksi suatu metabolit sekunder tanaman seringkali menjadi tantangan karena tingkat akumulasinya yang rendah.
“Oleh karena itu, pendekatan berbasis bioteknologi menjadi solusi untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder secara berkelanjutan,” Jadid, Kamis (10/4/2025).
Jadid mengatakan, salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi senyawa ini adalah dengan teknik elisitasi. Teknik ini dilakukan dengan memberikan senyawa tertentu untuk merangsang produksi metabolit sekunder dalam kultur sel tumbuhan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




