Jasad Halimah dikerumuni sanak saudara sebelum dimandikan di rumah duka. foto: hadi prayitno/ BANGSAONLINE
SITUBONDO, BANGSAONLINE.com - Hati-hati saat hujan turun disertai petir. Halimah (55) warga kampung Wringin Anom Kecamatan Panarukan tewas setelah disambar petir saat mengembala kambingnya di areal persawahan tak jauh dari rumahnya, siang tadi (3/12).
Jasad Halimah pertama kali ditemukan oleh Burawi, warga setempat setelah hujan reda. Kebetulan pada saat yang sama Burawi juga mengembala kambing. Namun saat hujan turun, Burawi berteduh di pinggir areal persawahan.
BACA JUGA:
- Wakil Rais Aam Mundur dari Koperasi BUMNU, Kiai Afif: Saya Baru Tahu Kalau Jadi Pengurus
- Mediasi Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur di Situbondo Gagal, Proses Hukum Jalan Terus
- Orang Tua di Situbondo Laporkan Kakek 60 Tahun atas Dugaan Pencabulan Anak Usia 4,5 Tahun
- Pemkab Situbondo Rencanakan Revitalisasi Pasar Mimbaan Baru
Karena panik, Burawi segera menyampaikan peristiwa tersebut kepada Asripan, putra Halimah bahwa ibunya harus segera ditolong. “Tadi Pak Burawi, teman ibu menggembala kambing lari ke rumah ini, dia bilang ibu harus ditolong, jadi langsung lari ke sana,” kata Asripan.
Kabar Halimah tersambar petir dengan cepat meluas hampir ke seluruh kampung. Ratusan warga kemudian berbondon-bondong ke lokasi. Sebagian lainnya melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Setelah dilakukan olah TKP oleh polisi, warga kemudian membawa Halimah ke rumah duka.
“Ibu meninggal di lokasi. Saat semuanya ke sana sudah tidak ada (meninggal, red). Semoga keluarga saya tabah,” ujar Asripan dengan sedih.
Data yang berhasil dikumpulkan, tewasnya Halimah murni karena tersambar petir, karena tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya. Sementara keterangan tim medis, korban tersambar petir di bagian tangan kiri serta di dadanya. Dua luka yang diderita korban tersebut sama-sama mengalami luka bakar atau gosong. (had/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




