Laporan Keliru Sasaran

Oleh: Mukhlas Syarkun

Ada laporan ke Bareskrim untuk Kiai Musta'in Syafi'ie, salah satu kiai dari Tebuireng. Konon, tuduhannya terkait pencemaran nama baik. Padahal, sama sekali tidak menyebut nama seseorang.

Yang beliau jelaskan adalah standar moral yang tinggi terhadap seorang rais aam, yang dulu punya mobil kijang, sekarang garasinya berjejer mobil mewah.

“Mestinya seorang rais aam harus mempertahankan pola hidup, seperti asalnya dengan rumah sempitnya dan mobil kijang-nya,” kata Mukhlas Syarkun, menirukan ucapan KH. Musta'in.

Sebab, kedudukan rais aam itu sudah setengah dewa, tidak mau dunia, dan berusaha keras meninggalkan pola hidup mewah, sebagaimana Imam Khumaini yang tinggal di rumah sekelas kontrakan biasa.

Selanjutnya, Kiai Musta'in menjelaskan pada zaman Khalifa Umar bin Khattab pernah mengaudit para pemimpin yang hidup hedonism, untuk mempertanyakan dari mana asal-usal hartanya, semacam menjelaskan teori pembuktian terbalik yang sempat dimunculkan saat era Gus Dur.

Jadi intinya bukan melakukan justice untuk seseorang, melainkan hanya menjelaskan standar moral seorang rais aam, bukan pada jabatan rais aam-nya sebagai pemimpin tertinggi ulama.

Sedangkan ulama itu pewaris nabi, maka perilaku dan gaya hidup harus berusaha keras seperti nabi, minimal mendekati, bukan malah sebaliknya.

Maka sekali lagi, laporan itu salah alamat, dan hanya terlihat sensasi, apalagi ada non-Muslim yang tentu tidak memahami tuntunan itu. (*)

Mukhlas Syarkun adalah penulis buku "Ensiklopedia Abdurrahman Wahid: Riwayat Gus Dur" yang terbit pada tahun 2013.