Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Herman Hery.
"Hai kenapa kau sita minuman keras orang. Saya sempat bilang, kalau masalah itu yang bapak maksud saya bisa jelaskan, saya minta waktu tapi dia terus bicara," sambungnya.
Makian itu terus saja diulang Herman Hery dalam perbincangan mereka selama lebih kurang 10 menit. Tak cukup memaki, Herman menantang Neno bertemu di hotel miliknya.
"Kau udah hebat dan jago, kalau gitu malam ini kau datang dan ketemu di hotel saya. Ketemu di hotel kau bawa senjata, kau lawan saya, ku akan habiskan kau malam ini," beber Albert meniru ucapan Herman.
Albert coba menanggapi santai kemarahan Herman. Dia bilang tak ada pentingnya membawa senjata kemudian menemuinya.
"Tapi dia kembali mengancam 'kulaporkan punya dir (direktur) mu, saya akan laporkan ke Propam, ke Kapolri biar kamu dicopot'," tambahnya.
Herman Hery membantah bila dirinya mengancam Neno. Menurut Hery, yang mengancam bukan dirinya tetapi stafnya bernama Ronny. Ancaman itu terjadi lantaran razia miras yang dilakukan oleh Albert Neno.
"Tidak benar, karena tanpa bukti, sebab yang nelepon ke Albert adalah staf saya atas nama Ronny," kata Hery.
Politikus PDIP ini menjelaskan bahwa dia menyuruh stafnya untuk membuat janji bertemu dengan Albert. "Saya yang suruh telepon untuk bertemu," tuturnya.
Jauh sebelum kasus ini bergulir, Hery pernah disangkutpautkan dengan sejumlah kasus korupsi, salah satunya melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.
Tak hanya itu, terdakwa kasus korupsi Solar Home System, Kosasih Abbas, mengaku sering dimarahi oleh anggota DPR dari Fraksi PDI-P, Herman Hery. Hal itu terjadi lantaran Herman yang ikut bermain dalam proyek bernilai lebih dari Rp 400 miliar itu merasa dibohongi.
Kosasih mengungkapkan pernah mengunjungi kantor Herman Hery di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan itu, menurut Kosasih, dia dimarahi habis-habisan oleh Herman. Hal itu karena jatah proyek SHS yang dia impikan tidak sesuai dengan harapan. Pada 2008, dia melanjutkan, Herman meminta setengah dari nilai proyek dia kerjakan. Tetapi kenyataannya yang dia dapat cuma tujuh paket dengan nilai sekitar Rp 58 miliar.
"Saya terus terang kaget dan takut dengan Herman. Saya sering ditelepon sambil dimarahi seperti ke anak buahnya. Dengan terpaksa saya dipanggil ke kantornya. Saya ikut saja. Saya dipanggil DPR takut juga," kata Kosasih.
Menurut Kosasih, akibat kejadian itu, Herman kerap bicara dengan nada tinggi saat meneleponnya. Lantaran kesal, menurut dia, Herman tidak memberikan komisi proyek buat dia. Dia mengatakan, Herman hanya akan memberi komisi ke mantan atasannya saja, Jacob Purwono.
"Tapi waktu saya tanya ke pak Jacob, dia mengaku tidak pernah menerima uang dari Herman," ujar Kosasih.
Nama Herman Hery kembali disebut terlibat dalam kasus simulator SIM oleh terpidana kasus suap Wisma Atlet Muhammad Nazaruddin. Namun, Herman menilai Nazaruddin sedang bercanda, namun candaan yang kelewat batas. (mer/tic/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




