Muntholib saat membuat tahu di belakang rumahnya. foto: suwandi/ BANGSAONLINE
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Gembar-
Seperti yang dialami Muntholib (70) pelaku usaha pembuat tahu asal Desa Wanglu Kulon, Kecamatan Senori, Tuban. Ia mengaku, selama 40 tahun menjalankan usaha membuat tahu, sekalipun belum pernah mendapat perhatian maupun bantuan dari Pemkab.
BACA JUGA:
- PT Solusi Bangun Indonesia Bagikan Dividen Rp329,3 Miliar dari Laba Bersih 2025
- Gangguan Transmisi 500 kV, PLN Angkat Bicara soal Listrik Padam di Tuban hingga Lamongan
- Berawal dari Facebook, Pasangan Paruh Baya ini Resmi Menikah di Nikah Massal Tuban
- Harga Sapi di Pasar Kerek Tuban Naik Rp1,5 Juta per Ekor Jelang Iduladha
Untuk menjalankan usaha, ia mengaku hanya bermodal dengkul alias pengalaman pribadi. Tahu tersebut dicetak sendiri di belakang rumah, kemudian dipasarkan keliling kampung.
"Maklum tidak kuat bayari karyawan jadi dilakukan sendiri, dan terkadang dibantu 2 anak dan 1 menantu," ungkap Tholib sapaan akrabnya saat ditemui di kediamannya sambil membuat tahu, Minggu (10/1) sore.
Ia mengatakan, di usianya yang sudah senja ini, tak mungkin lagi mengerjakan usahanya seorang diri. Oleh karena itu ia kini berharap ada bantuan dari pemerintah.
Pengalaman pahit asam dalam menjalani usaha tahu sudah dirasakan Tholib. Saat harga kedelai melonjak hati terasa "galau". Sebab, konsumen atau pelanggannya tidak mau dinaikkan. Sehingga, terpaksa ia memangkas ukuran tahu dari biasanya agar tidak gulung tikar.
"Sak itik-itik gak popo seng penting lancar lan halal (sedikit tidak apa-apa yang penting lancar dan halal)," terang anggota jama'ah tahlil desa setempat ini.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




