Ilustrasi. foto: mi
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Keinginan Bupati dalam 22 janji kerjanya yang salah satunya menjadikan Kabupaten Jember sebagai embarkasi Haji nampaknya menimbulkan pro kontra.
"Ini tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak yang harus di kaji, mulai dari kekuatan anggaran sampai ke masalah teknis itu sendiri," Kata Isman Sutomo, kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jember saat menghadiri debat publik di salah satu hotel ternama di Jember, Kamis (31/03).
BACA JUGA:
- Gus Fawait Raih Penghargaan di HPN 2026
- RSD dr Soebandi Jadi RS Pendidikan Dokter Spesialis, Gus Fawait: Layanan Setara di Surabaya
- Hapus Denda Pajak hingga 30 Juni 2026, Gus Fawait: Warga Tetap Wajib Bayar Pokok Pajak
- Targetkan Renovasi 1.000 RTLH pada 2026, Gus Fawait Galakkan Program Pengentasan Kemiskinan
Isman melanjutkan, jika keinginan Bupati itu sangat tidak mungkin bisa terwujud hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Menurut Isman, Bandara yang dimiliki Kabupaten Jember sangat tidak memungkinkan untuk menjadi embarkasi haji.
"Perlu diketahui standar bandara itu harus naik kelas dari kelas 4 ke kelas 2. Saat ini kualitas landasan di bandara hanya untuk pesawat dengam jumlah penumpang 130, itu maksimal," katanya.
Sementara untuk menjadi embarkasi haji, landasan di Bandara Notohadinegoro harus mampu menampung pesawat Boeing yang jumlah penumpang mencapai 350 penumpang. "Oleh sebab itu, jika ingin menjadikan Jember sebagai embarkasi haji dalam 5 tahun, saya yakin tidak mungkin terealisasi," jelasnya.
Namun Isman menambahkan, hal ini bisa bisa dilakukan dengan solusi Jember menjadi embarkasi haji antara saja.
"Bisa tapi jadi embarkasi antara. Kalau untuk menjadi embarkasi sepenuhnya, saya rasa harus menunggu Juanda terendam lumpur lapindo," ungkap Isman Sutomo.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




