“Tetapi sampai saat ini dari tahun 1992 pertama tulisan Said Aqil keluar sampai 2012 malah pernah dicetak kembali oleh PBNU. Tidak pernah ada revisi dalam buku karangannya hingga sampai saat ini,” tandas Ustadz Qusyairi.
"Jadi biarpun Said Aqil pernah minta maaf, tetapi buku karangannya sudah menyebar dan jadi kontroversi. Said Aqil harus merevisi bukunya. Jadi, buku harus diselesaikan dengan buku," imbuhnya
Qusyari kemudian mencontohkan isi buku Said Aqil yang bertolak belakang dengan tuntunan Islam. Yakni, di mana Said Aqil berpikir bahwa Nabi Muhammad SAW dalam dakwahnya bukan hanya untuk kepentingan agama, tapi juga kepentingan politik kekuasaan.
Said Aqil dalam bukunya mengutip riwayat percakapan antara Abbas dengan Afit yang waktu itu keduanya masih kafir. "Nabi Muhammad SAW mengaku seorang Nabi, dia mengira bisa menguasai Romawi dan Persia," ujar Qusyairi mengutip percakapan Abbas dengan Afit.










