
PONOROGO, BANGSAONLINE.com - Selain Gerebeg Suro, salah satu ikon tradisi kota Ponorogo adalah pasar malam yang digelar setiap akhir Ramadhan hingga minggu kedua lebaran di Alun-alun Kota Ponorogo. Pasar malam ini mulai dibuka, malam ini (26/6).
Ribuan warga memadati Alun-alun seusai menunaikan ibadah salat tarawih, untuk sekedar melihat-lihat, atau pun langsung memborong kebutuhan lebaran.
Selain stan aneka penjual menu kuliner, pakaian, souvenir, juga ada permainan anak-anak seperti jinontro (kincir) dan dremolem (komedi putar).
”Keren, barangnya murah-murah, ini belum beli baru lihat-lihat soalnya belum gajian, THR juga belum turun,” ujar Teguh, (26) warga Siman.
Namun, peserta pasar malam lebaran tahun ini berkurang 100 pedagang. Hal ini merupakan imbas dari kebijakan Bupati Ipong, yang melarang berjualan di jalan dan di trotoar.
”Kami pastikan pengurangan bukan pedagang dari Ponorogo. Dulu saat masih diperbolehkan berjualan di jalan dan trotoar ada sekitar 100 pedagang. Mungkin nanti berkurangnya juga segitu,” ujar Kabag Umum Pemkab Ponorogo, Supriyadi.
Pengurangan jumlah pedagang juga berimbas pada pendapatan asli daerah (PAD). Namun, jumlahnya tak besar. Sebab, retribusi pasar malam juga tak mahal. Pemkab membebankan Rp 235.500 setiap kavling yang disewa selama gelaran pasar malam. Jika dihitung per hari, pedagang hanya dikenakan pungutan Rp 9 ribu.
“Pemkab membebankan biasa sewa kavling seribu rupiah per meter. Sedang, luasan saban kavling 3 x 3 meter sehingga total luas kavling adalah 9 meter persegi,” terang Supriyadi.
“Kami perkirakan, perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 10 miliar selama gelaran pasar malam tahun ini. Untuk parkir kami akan sediakan di sisi timur alun-alun, harapan kami pasar malam lebaran tahun ini dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Ponorogo tanpa kecuali dengan nyaman,” pungkas Supriyadi. (yah/jar/ros)