Jarwo dengan tempe yang diproduksinya.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Bisnis halal di eks Lokalisasi Dolly mulai menunjukan hasil pasca penutupan. Adalah pria bernama lengkap Jarwo Susanto yang awalnya berdagang kopi untuk melayani para tamu wisma lokalisasi.
Pria yang lahir dan besar di kawasan Lokalisasi Dolly tersebut mengakui, kala itu penghasilannya cukup lumayan mengingat ramainya pengunjung lokalisasi terbesar se-Asia tenggara tersebut.
BACA JUGA:
- Polrestabes Surabaya Tetapkan Satu Tersangka di Kasus Penipuan Pinjol UMKM Benowo
- Bentuk Koperasi Merah Putih, Pemkot Surabaya Jadikan 10 Kelurahan Pilot Project
- Ramadhan Kreatif Fest 2025 Siap Meriahkan Kota Lama Surabaya
- Sidak, Pemkot Surabaya dan Polrestabes Pastikan Harga Bapok Stabil: Tak Perlu Panic Buying
Namun kondisi berubah, saat Wali Kota Tri Rismaharini memutuskan untuk menutup lokalisasi legendaris yang dirintis oleh Mami Dolly. Jarwo, sapaan akrab Jarwo Susanto, saat itu memilih berjuang melawan kebijakan Pemerintah Kota Surabaya guna melindungi lingkuan yang menjadi tumpuan hidupnya. Bergabung bersama gerakan tolak penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak, Jarwo terlihat aktif kala itu.
Menjadi aktivis pada penutupan lokalisasi bukanya tanpa beban, Jarwo menjadi incaran petugas lantaran dinilai berada pada barisan depan mewakili pedagang. Selama menjadi aktivis penolakan penutupan lokalisasi, pria ini sempat beberapa kali melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari incaran petugas kepolisian.
Jarwo menjelaskan, bahwa getolnya menolak penutupan lokalisasi, hanya untuk melindungi kepentingan pedagang yang saat itu memang menggantungkan hidupnya dari ramainya geliat prostitusi.
"Waktu itu, Saya hanya mikir pedagang seperti saya, kalau ditutup mau cari makan di mana? Modal pas-pasan, kakak-kakak saya juga berdagang di sekitar dolly," keluh anak ketujuh dari tujuh bersaudara ini.
Dari sepak terjang Jarwo menjadi Aktivis, alhasil, salah satu kakaknya ditangkap polisi di rumahnya, lantaran tak berhasil mencari Jarwo.
"Masku dicekel kok, nggoleki aku gak onok, padahal masku gak melok-melok, (mas saya ditangkap, padahal kakak saya itu tidak ikut apa-apa)," ujar Jarwo dengan logat Suroboyoannya yang khas.






