SITUBONDO, BANGSAONLINE.com - Areal pertanian seluas 194 hektar di empat desa yang berada di dua kecamatan di Situbondo terkena dampak banjir yang terjadi pada, senin malam (30/1). Akibatnya, petani disinyalir mengalami kerugian hingga mencapai Rp 776 Juta lebih.
Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Holtikulura, Farid Kuntadi menjelaskan, kerugian hingga mencapai ratusan juta yang dialami petani tersebut dihitung dari rata-rata biaya tanam saja.
BACA JUGA:
- Kemenag Situbondo Aksi Peduli Banjir Besuki dan Banyuglugur
- Belum Terealisasi, DPRD Situbondo Pertanyakan Perbaikan Rumah Terdampak Banjir
- Rapat Penanganan Banjir di Situbondo: Rp15 Juta per Rumah untuk Korban Terdampak
- Desak BTT Dicairkan, Tokoh Masyarakat Nilai Bupati Situbondo Tak Miliki Sense of Crisis soal Banjir
"Jika per hektarenya biayanya Rp 4 juta, maka kerugian akibat bencana banjir itu mencapai sebesar Rp 776 juta," ujar Farid Kuntadi, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura kepada wartawan, selasa (31/1).
Bahkan, lanjut Farid, jika kerugian dihitung berdasarkan sebagian tanaman yang akan dipanen, nilai kerugian yang harus ditanggung petani bisa mencapai miliaran rupiah. "Itupun belum tanaman yang akan dipanen, bisa-bisa mencapai miliaran," lanjutnya.
Farid menegaskan, hampir dipastikan ratusan hektare tanaman petani di empat desa yang terendam banjir tersebut akan rusak.
"Jika tidak rusak, maka hasil produksinya menurun. Apalagi, tanaman petani belum masuk masa panen," jelasnya
Informasi yang dihimpun menyebutkan, empat desa yang terkena banjir luapan sungai tersebut, diantaranya Desa Kendit dan Desa Bugeman, Kecamatan Kendit dan Desa Paowan serta Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan. (had/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




