Makna “Man Jadda Wajada”, Sebuah Cerpen

Makna “Man Jadda Wajada”, Sebuah Cerpen foto:ilustrasi

Setiap hari, Tris menggilir tempat belajarnya, yaitu dari satu tailor atau penjahit ke penjahit lain. Tris sungkan jika setiap hari dia hanya bekutat di satu penjahit saja. Sebab, jika bertamu terlalu lama, Tris akan diberi makan. Ini yang menjadikan Tris sungkan.

Maka, Tris memilih berpindah-pindah tempat untuk belajar. Diperbolehkan memakai mesin jahit saja, sudah sebuah berkah bagi Tris. Biasanya, Tris memilih makan ketika sampai di rumah pada malam hari.

“Bagaimana kemampuan menjahitnya?”

“Alhamdulillah Bu, Bapak sudah bisa menjahit lurus dan kondisinya bagus.”

“Kalau sudah bisa menjahit, apa bisa langsung terima jahitan di rumah?” harap istrinya.

“Tentu tidak Bu, karena menjahit baju itu butuh keahlian khusus. Saya tak mungkin membuatnya.

“Trus Bapak belajar menjahit untuk apa?”

“Saya tidak tahu.”

Meski begitu, istrinya selalu mendukung Tris untuk semakin giat belajar.

Dan sepertinya maunah dari Allah turun untuk Tris. Tris mulai belajar merangkai kain perca itu menjadi satu jalinan kain. Tambah hari, kemampuan Tris menggabung kain perca semakin bagus. Semua temannya yang penjahit memang menyilakan Tris menggunakan kain perca.

Dan satu ketika Tris muncul ide membuat topi dari kain perca. Satu topi berhasil dibikin, dan dimintakan pendapat penjahit yang temannya itu. Semua mengatakan bagus.

Maka, Tris yakin bahwa topi aneh ini layak dijual. Dia sejak saat itu giat memroduksi topi kain perca.

Setidaknya, setiap hari Tris bisa membuat satu sampai tiga topi kain perca. Topi itu dmasukkan glangsing di rumahnya, tetapi Tris tak tahu harus dijual kemana topi aneh itu.

Ketika jumlahnya sudah mencapai puluhan, Tris memutuskan untuk menitipkan topi bikinannya itu ke pedagang di Pasar Turi Surabaya.

“Apa topi aneh seperti itu? Tidak. Bikin tempat tambah penuh saja.”

Jawaban seperti itu, yang selalu mengalir, ketika Tris menunjukkan topi kain percanya.

Gagal di hari pertama, Tris kembali di hari kedua. Tapi tetap saja gagal.Di sisi lain, Tris terus dan terus memroduksi topi kain perca. Ya, memang ini yang bisa dilakukan. Dia bisa ke Pasar Turi dengan nggandol kereta api hingga Stasiun Kota Surabaya. Dia juga tak keluar biaya produksi samasekali, maklum dari kain perca, dan mesinnya pinjam di penjahit.

Karena sudah tak tahan lagi, Tris memilih utang kepada tetangga. Rencana awal, uang pinjaman itu untuk menghidupi keluarga.

“Bu saya dapat utangan. Kita pakai untuk kebutuhan sehari-hari, ataukah kita jadikan modal usaha?”

“Terserah Bapak enaknya buat apa?”

“Saya pakai untuk modal saja ya bu ya?”

“Silakan.”

Suka cita, Tris segera nggandol kereta api dan segera ke Pasar Turi. Ternyata, yang dinamakan jadi modal itu adalah, uang itu dibagikan cuma-cuma begitu saja kepada penarik becak.

“Tapi, saya minta tolong, Bapak masuk ke Pasar Turi. Datangi toko-toko topi, dan tanyakan kepada penjual, apa ada topi dari kain perca? Itu saja. Becak Bapak saya yang jaga.”

Ini dilakukan Tris berhari-hari sampai uang utangan itu habis ludes.

“Bapak, sebenarnya uang itu untuk modal untuk usaha apa sih?”

“Modal usaha jual topi.”

“Caranya?”

“Saya bagikan kepada penarik becak.”

“Ya Allah. Kok seperti itu?” istri Tris mulai emosi.

“Semoga Allah meringankan beban kita dik. Besok saya akan kembali ke Pasar Turi.”

Memang benar, esoknya Tris kembali ke Pasar Turi dengan membawa semua topi kain perca. Benar, para toko mau menerima topi bikinan Tris ini. Ada yang bayar kontan dan ada yang konsinyasi.

Tris bersyukur atas maunah Allah SWT ini.

Sejak peristiwa itu, permintaan topi kain perca semakin banyak. Tris kewalahan dan akhirnya bisa mengembangkan bidang usahanya. Kini, Tris sudah sebagai pengusaha topi antar pulau, dan dia mempunyai 15 pekerja, dan semua mesin dia punya. Alhamdulillah.

***

“Alhamdulillah Bapak Tris. Saya benar-benar berterima kasih, telah mendapat kehormatan bisa mendengarkan kisah hidup Bapak yang sangat hebat itu. Trus kegiatan Bapak lainnya apa?”

“Anak saya sudah tujuh orang dari satu istri yang sama. Kami ingin membahagiakan anak. Dan setiap hari saya bisa bersyukur kepada Allah swt. Kami ingin pergi ke tanah suci, mumpung Allah memberi rezeki yang lapang. Alhamdulillah, kami juga ingin mengurangi pengangguran di kampung, dengan memeberikan modal usaha tanpa bunga.”

“Amin. Semoga yang Bapak Tris harapkan, dikabulkan Allah swt. Pepatah mengatakan, man Jadda Wajada, siapa giat dia mendapatkan. Pak Tris engkau telah memraktikkannya.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO