Afifa, Mahasiswi UINSA yang Sukses Jadi Pelaku UKM Sepatu

Afifa, Mahasiswi UINSA yang Sukses Jadi Pelaku UKM Sepatu masih muda, cantik, dan jadi pengusaha lagi..... foto: istimewa

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Berawal dari kain perca bahan sepatu, Afifa (22) menyulapnya menjadi flat shoes, atau sepatu wanita tanpa hak. Tak disangka, kreasinya ini ternyata laku dijual.

Afifa awalnya bukanlah pengrajin sepatu. Bahkan, sampai sekarang dia tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya jurusan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah. Maka, menjadi pengrajin sepatu ini adalah ‘sambilan’ yang menjanjikan.

Bakat membuat sepatu didapat dari sang bapak dan ibu, Usman-Munayah yang memang pengrajin sepatu. Dari sisa-sisa bahan sepatu UKM sang bapak itulah dimanfaatkan oleh Afifa.

“Sisa bahan dari Bapak itu mampu dibikin sekitaran 3 sepatu saja. Padahal, Bapak membuat sepatu untuk kodian. Karenanya, sisa bahan itu saya manfaatkan untuk membikin sepatu yang dijual bijian,” kata Afifa, yang ditemui BANGSAONLINE.com di tempat kos dekat kampus UINSA, Jl Wonocolo gang IAIN, Surabaya.

Awalnya, dia hanya menawarkan sepatu-sepatu bikinannya ke teman-teman kuliah. Dia memaparkan jika home industri milik orang tuanya sudah berdiri sekitar tahun 90-an. Katanya, selama ini sepatu yang diproduksi orang tuanya modelnya biasa dan dijual secara grosir di Pasar Grosir Surabaya (PGS). Sedangkan sisa kain tersebut tak dapat dijual, akhirnya ia desain dan dijual sendiri ke teman-temanya.

Terkait bakat pemasaran, sebenarnya telah dikenal afifa sejak sekolah dasar. “Dulu pas SD jualan isi buku binder,” ungkap dia.

Karenanya, bakat dia semakin terasah ketika era digital mengenalkan penjualan online. Awalnya Afifa memasarkan produknya secara online. Seluruh isi kontak yang ada di Hp-nya dan dan lingkungan sekitar menjadi sasarannya.

“Semenjak boomingnya instagram mulai buka toko online, shafastore_id,” tambahnya. Kata dia, para konsumen awalnya meminta model sendiri. Lalu ia mencoba googling, dari situ ia terinspirasi model flat shoes lain lalu ia kembangkan sesuai pesanan pelanggan. “Cuma gak persis, kadang-kadang polosan,” tambah dia.

Selain untuk membayar kuliah, ia juga turut membantu memberikan job pada masyarakat sekitar. Meski disambi dengan kuliah, ia masih bisa mampu meraup omzet sekitar Rp 5,6 juta per bulan. “Pembeli rata-rata berdomisili di Jawa Tengah dan Jawa Barat,” kata dia.

Sumber: A Zulfa

Simak berita selengkapnya ...