Cahyono (40), saat memanen salak organik di kebunnya. Foto: RONY S/BANGSAONLINE
Itu tak lepas dari keterbatasan para petani terhadap akses pemasaran. Sehingga mereka harus menjual melalui para tengkulak. Salak tetap mereka jual dengan harga murah agar tak membusuk.
"Harapannya pemerintah supaya membantu alat pengolahan salak dan pemasarannya," ujarnya.
Tanaman salak yang dibudidayakan Cahyono, tergolong produktif. Dalam sebulan, dirinya mampu memanen salak hingga empat kali.
"Di masa panen, sekali petik bisa 4-5 kwintal," terangnya.
Agar hasil panen melimpah, para petani salak Galengdowo menggunakan metode penyerbukan secara manual. Serbuk bunga jantan ditaburkan ke bunga betina yang ada di tangkai pohon salak. Agar tak rusak terkena hujan, bunga yang sudah dibuahi, ditutup dengan gelas plastik bekas. (ony/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




