repro:dw.de
CHICAGO (bangsaonline) - Bayangkan makhluk film menakutkan "Jurassic Park" disilangkan dengan hiu dari "Jaws." Sekarang tambahkan gambaran predator super besar itu dengan moncong buaya sebesar orang, dengan kaki seperti bebek.
Makhluk mengerikan yang pernah ada di muka bumi ini merupakan dinosaurus yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam air. Binatang, yang disebut dengan nama Spinosaurus aegyptiacus itu, sudah diketahui sejak lama berdasarkan penemuan fosil , tapi kebanyakan dari mereka, tulangnya hancur selama Perang Dunia II di Jerman. Sekarang, 70 tahun kemudian, kerangka baru yang ditemukan di Maroko menunjukkan bahwa binatang itu jauh lebih sering berada di air dari yang diperkirakan.
BACA JUGA:
- Inovasi Penjernih Foto Berbasis AI Ini Bisa Diakses Gratis Lewat Browser
- Perbandingan Mekari Talenta vs Workday, Aplikasi HRIS Mana yang Paling Cocok Untuk Perusahaan Anda?
- Bocoran Desain iPhone Fold Semakin Kuat, Diperkirakan September 2026 Rilis
- WhatsApp Akan Rilis Paket Premium, Bisa Pin 20 Chat dan Ganti Icon
Spinosaurus memiliki leher panjang, lengannya bisa mencakar dengan kuat, punya rahang dan dan tulang-tulang yang padat. Merekabergerak di dalam air dengan kaki datar yang berselaput, demikian menurut sebuah studi yang dirilis jurnal Science. Punggung binatang itu tampak bagai layar raksasa dengan barisan duri. Mereka hidup sekitar 95 juta tahun yang lalu. "Ini seperti makhluk luar angkasa atau alien," ujar pemimpin studi tersebut, Nizar Ibrahim dari Universitas Chicago.
Jago berenang
Para ilmuwan sebelumnya berpikir bahwa semua dinosaurus banyak menjejak tanah, dengan sesekali masuk ke dalam air. Tapi kerangka yang baru ditemukan ini menunjukkan bukti yang jelas, bahwa tulang padat makhluk itu memungkinkannya berenang mencari makanan, sementara lubang hidung yang berposisi tinggi pada tengkorak, memungkinkan Spinosaurus untuk berada di bawah air.
Mereka mungkin bisa berjalan dan bersarang di tanah, tetapi tampaknya mereka bergerak lebih canggung di atas tanah daripada di air, kata rekan penulis studi tersebut, Paul Sereno dari Universitas Chicago. Mereka berjalan terhuyung-huyung pada dua kaki belakangnya, karena kaki depannya yang kuat dengan cakar melengkung tajam lebih dipakai untuk membunuh daripada berjalan, tambahnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




