Belasan Ojol di Jember Jadi Korban Orderan Fiktif

Belasan Ojol di Jember Jadi Korban Orderan Fiktif Para driver ojol mendatangi toko yang dilakukan order fiktif.

JEMBER, BANGSAONLINE.com - Puluhan ojek online (ojol) Grab menggeruduk toko penjual camilan di komplek Pujasera Tamara Jalan PB Sudirman, Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur, Selasa (17/12/2019) sore. Mereka menuntut pertanggung jawaban atas belasan rekannya yang menjadi korban orderan fiktif yang diduga dilakukan oleh pemilik toko, dengan memanfaatkan promo diskon dari aplikasi ojek online.

Salah seorang ojol Bambang menyampaikan, dirinya bersama puluhan rekannya yang lain telah lama memergoki orderan fiktif yang dilakukan toko tersebut.

"Namanya di aplikasi berubah-ubah mas, terakhir menjual bebek bejek dan pemesanannya diantar di daerah Cempaka, Gebang. Tapi saat didatangi sudah disiapkan dalam bungkus plastik dan isinya malah kripik," kata Bambang saat dikonfirmasi wartawan.

Dengan aturan aplikasi setiap driver (mitra ojek), tidak boleh mendapat orderan sama lebih dari 5 kali, kata Bambang, tercatat belasan rekannya diputus kerja sama dengan Grab secara sepihak.

"Akunnya kena suspend, yang istilahnya teman saya itu di PHK. Padahal mereka bekerja di Grab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sudah ada 15 rekan kami yang dipecat," ungkapnya.

Bambang menjelaskan, sistem order ojek online akan otomatis mengindikasi bahwa order tersebut bermasalah atau sering disebut "fiktif". Maka sistem akan otomatis menangguhkan akun driver yang bersangkutan.

"Karena akunnya itu oleh sistem, mendapat orderan yang sama. Dari toko bahkan pemesannya pun sama. Padahal tidak boleh menerima 5 order yang sama itu. Akhirnya driver ini yang dirugikan," sambungnya.

Dengan adanya persoalan ini, Bambang ingin mendapatkan kejelasan dan pertanggungjawaban dari order fiktif tersebut. "Sebagai driver, kami merasa sangat dirugikan karena tidak bisa melakukan order lagi," pungkasnya.

Menurut PIC Grab Jember, Ade Irawan Yulianto, toko yang diduga melakukan order fiktif tersebut memang sudah berulang kali berganti nama. Awalnya merupakan kedai yang menjual tahu petis.

"Tapi pesanan yang diberikan kepada driver tidak pernah sesuai dengan pesanan yang tertera di aplikasi. Hal yang mencurigakan lainnya adalah titik pengambilan dan pengantaran selalu sama, yakni dari Toko Aneka Camilan tersebut, dan sebuah lokasi di Jalan Cempaka, Kecamatan Patrang," jelasnya.

Pihaknya pun masih melakukan pengecekan di sistem agar akun pemesan maupun toko yang terlibat order fiktif ini untuk diblokir. "Toko ini terkadang memanfaatkan promo dari diskon penjualan yang nominal pembelanjaannya di atas Rp 100 ribu, jadi mengambil untung di sana. Tapi drivernya dirugikan. Ini masih kita dalami persoalannya," tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, pemilik toko camilan sedang tidak berada di tempat. Para driver ojek online hanya ditemui seorang pegawainya Dimas.

"Yang kami jual ini camilan, tapi para gojek itu marah-marah, gara-gara performanya turun. Padahal bukan salah kami," kata Dimas.

"Tapi nanti biar menemui pemilik toko saja mas yang bisa menjelaskan," sambungnya. (jbr/yud)