"Publik dibius dengan propaganda bahwa Bupati Faida bersih. Maka, jika ada pihak yang mengkritiknya berarti koruptor. Tudingan demikian dibuat masif oleh kroni-kroni Faida, berikut jaringan media abal-abal yang berbayar recehan," kata Korlap Aksi Kustiono Musri saat dikonfirmasi wartawan.
Kustiono menilai seperti itu, karena menurutnya mayoritas kegiatan yang dibuat oleh Pemkab tidak selaras dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah yang telah disusun. Ironisnya, saat program yang melenceng itu dikritisi, Bupati Faida balik menuduh pengkritiknya sebagai penghambat.
"Pepatah mengatakan, bangkai yang ditutupi rapat sekalipun cepat atau lambat akan menyeruak bau busuknya. Terbukti, pada 2018 silam, kebusukan mulai nampak dengan terungkapnya komplotan pelaku pungutan liar yang sampai melibatkan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil," ungkapnya.
"Kami juga apresiasi keberanian Kejari Jember yang menetapkan tersangka kasus korupsi rehab Pasar Manggisan. Kasus itu sebagai pembuka betapa bobroknya tata kelola Pemkab Jember. Seret siapa pun semua yang terlibat, jangan sampai ada yang tersisa," tandasnya.










