Wali Kota Risma saat melakukan rapat teleconference UCLG Aspac di Balai Kota. foto: ist.
Ia mengakui, dalam menangani wabah Covid-19 ini masih ada keterbatasan, terutama jumlah fasilitas, prasarana dan sumber daya manusia. Sementara, Surabaya sering menjadi rujukan rumah sakit dari daerah. Namun, ia memastikan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya semaksimal mungkin melakukan pencegahan Covid-19.
“Kalau tidak, berat. Itu yang dilakukan di beberapa kota, di antaranya di salah satu kota di Jepang membuat border control perbatasan,” katanya.
Perempuan pertama yang menjadi Wali Kota Surabaya ini menegaskan, yang paling penting untuk mengurangi penyebaran Covid-19 adalah dengan sikap disiplin melalui menjaga jarak, memakai masker, dan menjaga kebersihan dengan cara rajin cuci tangan.
“Kenapa PMK terus lakukan penyemprotan? Bahkan, semua resources kita kerahkan, karena kalau sudah begitu tinggi (penderita), berat,” jelasnya.
Di pasar tradisional, pihaknya juga memperbanyak pemasangan wastafel dan hand sanitizer. Pemasangan tak hanya di luar, di dalam pasar juga disediakan perlengkapan tersebut. Bahkan, hand sanitizer itu terpasang dengan jarak sekitar 20 meter.
“Kita juga terus membagi ribuan masker ke pedagang dan ojek online. Kalau kita disiplin dan skala kota kita lakukan, aku yakin turun. Skala kota, dengan di border-nya, penanganan lingkungan dan cara menjaganya seperti apa,” tuturnya.
Tak hanya itu, untuk menekan penyebaran virus, di sejumlah perbatasan pintu masuk ke Kota Surabaya, juga dilakukan penyemprotan disinfektan. Upaya ini dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19. (ian/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




