
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Bulan suci Ramadan ternyata tak membuat para penyebar hoax mengendalikan diri. Para pemain hitam media sosial itu justru memanfaatkan bulan penuh berkah itu sebagai ajang politik adu domba untuk mengacaukan keadaan. Mereka menyebarkan selembar surat palsu ditujukan kepada para pengasuh pondok pesantren se-Jawa Timur.
Dalam surat berkop GUBERNUR JAWA TIMUR dengan logo Pancasila yang diterima BANGSAONLINE.com, tertulis kepada para pengasuh pondok pesantren se-Jawa Timur. Surat palsu itu mengundang para pengasuh pesantren untuk DOA BERSAMA di gedung Grahadi pada Senin, tanggal 27 April 2020. Sirat itu juga dilengkapi stempel dan tanda tangan Gubernur Khofifah.
Lalu bagaimana respons Gubernur Khofifah? Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur menanggapi santai. “Saya pastikan surat ini adalah hoax yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab,” kata mantan Menteri Sosial RI itu dalam akun instagramnya, khofifah.ip.
Ia menegaskan, baik secara pribadi maupun atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tidak pernah menyelenggarakan doa bersama seperti yang tertera dalam surat tersebut.
“Dengan demikian, dimohon kepada siapapun yang menerima surat palsu tersebut untuk tidak menanggapinya,” harap Khofifah.
Ia justru mengajak masyarakat berdoa dan beribadah. “Mari untuk sementara waktu kita berdoa dan beribadah di rumah masing-masing guna memutus mata rantai penularan covid-19,” pintanya.
Serangan para buzzer kepada Pemprov Jatim bukan kali ini saja. Sebelumnya, Pemprov Jatim juga diserang di media sosial saat acara Rapat Kerja Percepatan Penyaluran dan Pengelolaan Dana Desa yang dihadiri ribuan kepala desa se-Jawa Timur di JX International Jalan A Yani Surabaya. Acara itu selain dihadiri Gubernur Khofifah, juga dihadiri perwakilan Kemendagri, Polda Jatim, hingga Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Peritiwa itu terjadi pada 25 Februari 2020.
Hebatnya, hanya hitungan menit dari acara itu, sudah beredar foto sampah berserakan di sekitar area JX International. Karuan saja kecaman langsung marak dari warganet yang termakan provokasi itu. Apalagi beberapa media menulis penuh tendensius.
“Ironisnya, di antara lautan sampah tersebut terlihat kawanan Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tak acuh akan kebersihan di sekitarnya. Mereka hanya sibuk bercengkrama, duduk santai dan memainkan gadget masing-masing,” tulis sebuah media.
Padahal, saat itu petugas kebersihan berjibaku membersihkan arena yang baru saja ditempati ribuan orang itu.
“Saat itu petugas kebersihan sedang sibuk menyapu. Lalu panitia minta petugas kebersihan makan dulu karena kasihan. Tapi momen itu lalu dimanfaatkan oleh buzzer untuk memfoto sampah itu,” kata salah seorang pejabat Pemprov Jatim. Maka viral lah foto sampah itu.
Pemprov Jatim juga diserang hoax ketika pembukaan Lumbung Pangan Jatim, 21 April 2020. Saat itu tiba-tiba beredar informasi hoax bahwa di Jatim Expo ada pembagian sembako gratis. Kontan saja massa datang berjubel.
Massa yang berjubel itu lalu difoto dan diposting di media sosial. Warga jagat maya pun kembali heboh. Mereka mengecam Pemprov Jatim dengan tuduhan tidak menaati protokol kesehatan yang digembar-gemborkan sendiri selama ini.
Padahal, Lumbung Pangan Jatim tidak membagi-bagikan sembako gratis. Tapi melayani pembelian masyarakat dengan harga yang lebih murah. (tim)