Sabtu, 10 April 2021 22:09

Di Kediri, ​Kotoran Sapi Disulap Jadi Energi Biogas dan Pupuk Slurury

Jumat, 09 Oktober 2020 19:50 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Muji Harjita
Di Kediri, ​Kotoran Sapi Disulap Jadi Energi Biogas dan Pupuk Slurury
Siti saat mengumpulkan kotoran sapi di kandangnya. (foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE)

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Kotoran sapi ternyata bisa disulap menjadi pupuk organik dan biogas untuk memasak serta untuk lampu penerangan. Memang, bagi sebagian orang mungkin kotoran sapi itu menjijikkan.

Namun beberapa keluarga di Dusun Karanglo, Desa Kanyoran, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, mulai memanfaatkan kotoran sapi atau tlethong itu untuk pupuk sekaligus biogas.

Banyaknya peternak sapi di desa Lereng Gunung Wilis ini dimanfaatkan warga setempat untuk mengubah kotoran sapi menjadi pupuk organik dan sumber energi alternatif.

Siti dan suaminya adalah salah satu peternak sapi yang memanfaatkan kotoran sapi itu untuk dijadikan pupuk dan biogas. Bahkan sudah seminggu ini, Siti sudah bisa menggunakan biogasnya untuk memasak.

BACA JUGA : 

Tiga Wisata di Kediri Diuji Coba Buka, Ini Lokasi dan Harga Tiketnya

Rumah Terbakar, Pensiunan Guru SD di Kediri Meninggal Dunia

Sempat Vakum, Tahun Ini Prodamas Plus Siap Direalisasikan

Libur Tahun Ajaran Baru, ​15 Ribu Santri Lirboyo Kediri Dipulangkan ke Daerah Asal Masing-Masing

Siti dan suaminya adalah salah satu peternak sapi yang memanfaatkan kotoran sapi itu untuk dijadikan pupuk dan biogas. Bahkan sudah seminggu ini, Siti sudah bisa menggunakan biogasnya untuk memasak.

Adapun untuk bisa memanfaatkan kotoran sapi itu, Siti memilih mengambil program Instalasi Biogas Rumah (Biru) yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Energi (YRE) dan Perkumpulan ‘SuaR Indonesia’ Kediri.

“Saya beternak sapi sudah 2 tahunan. Selama ini pembuangan kotoran sapi sering dikomplain tetangga, karena rumah saya berada di daerah miring, sering kali kotoran sapi merusak tanaman milik tetangga," kata Siti, Jumat (9/10/2020).

Menurut Siti, agar tidak membeli gas, apalagi sekarang gas sulit, akhirnya dia memilih program pelatihan ini. Sebenarnya keluarga Siti mudah untuk memperoleh kayu bakar, karena tempat tinggalnya memang di pinggir hutan Lereng Gunung Wilis, tetapi energi gas dinilai lebih efektif. Siti sudah lama berkeinginan menggunakan biogas, tetapi baru kali ini bisa terwujud.

“Sudah lama saya berkeinginan memakai biogas. Saya tanya-tanya, Alhamdulillah sekarang bisa,” terang Siti.

Siti sendiri memelihara tiga ekor sapi pedaging di belakang rumahnya. Kotoran sapi, kini langsung ditampung pada bak instalasi biogas. Kotoran sapi itu diubah menjadi energi alternatif gas yang dapat dimanfaatkan untuk memasak. Selain itu, sisa pemanfaatan dari biogas tersebut menjadi pupuk organik slurury yang siap pakai.

Sejak dahulu masyarakat Dusun Karanglo mayoritas menekuni usaha peternakan sapi seperti halnya keluarga Siti. Dari 300 kepala keluarga (KK) yang menghuni daerah di dataran tinggi tersebut, 90 persen adalah petani sekaligus peternak sapi. Mereka membudidayakan sapi secara konvensional, yakni dikembangbiakkan untuk diperoleh anakannya. Melimpahnya rumput hijau serta dedaunan menjadi daya dorongan tersendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan peternakan.

Sementara itu, Direktur SuaR Indonesia, Sanusi mengatakan, ada dua poin yang dapat dipetik oleh masyarakat apabila mengikuti program tersebut. Pertama, warga dapat mengolah limbah kotoran sapi yang ramah lingkungan. Kedua, mereka dapat memetik hasilnya melalui energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari, yaitu biogas.

"Bahkan, bonusnya berupa pupuk organik yang bernilai ekonomis. Biogas sendiri merupakan teknologi tepat guna (TTG) yang sebenarnya kalau dikembangkan bisa menjadi indikator inovasi desa," kata Sanusi.

"Melalui skema dukungan pendanaan desa sudah seharusnya desa mulai melihat potensi biogas ini. Biogasnya sendiri bisa dipakai untuk lampu penerangan dan memasak. Kalau misalnya keterlambatan gas 3 kilogram, dengan harga kecenderungan mahal, maka biogas menjadi solusi. Kemudian untuk pupuk slurury-nya bisa dipakai untuk menyuburkan tanah," paparnya.

"Kita ketahui bahwa di daerah Kanyoran ini merupakan penghasil durian yang terkenal. Dengan pemberian pupuk organik, tentu hasilnya jauh lebih baik lagi,” tambah Sanusi.

Dari pemetaan SuaR, masih menurut Sanusi, di Desa Kanyoran ada 300 orang peternak sapi, dengan estimasi populasi sapi mencapai 900 ekor. Berdasarkan hasil komunikasi dengan kelompok tani setempat, ada 20-24 peternak yang mengambil program instalasi biogas tersebut.

"Saat ini, Yayasan Rumah Energi (YRE) bareng SuaR Indonesia tengah melatih warga setempat menjadi tukang instalasi melalui pelatihan supervisi dan tukang Biogas Rumah (Biru) type Fixed Done," ujar Sanusi lagi.

YRE sendiri memberikan dukungan kepada peternak yang juga mitra perusahaan susu Nestle untuk pembuatan biogas pada kelompok peternak sapi perah. Mereka telah menggarap program Biru tersebut di seluruh unit kerja Nestle di Indonesia. Untuk di wilayah Jawa Timur, sudah terbangun sebanyak 8.276 unit reaktor yang tersebar mulai dari Kabupaten Malang, Kediri, Blitar sampai Ponorogo, Banyuwangi, Jombang, dan Tuban. (uji/zar)

5 Kios Pasar Ranggeh Pasuruan Rusak Tertimpa Pohon
Sabtu, 10 April 2021 02:59 WIB
Pasuruan, BANGSAONLINE.com - Sebuah Pohon Trembesi roboh menimpa Pasar Ranggeh di Desa Karangsentul Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.Akibatnya, 8 kios milik pedagang rusakDelapan kios milik pedagang yang rusak itu terdiri dari toko kelontong, pertanian...
Senin, 05 April 2021 10:05 WIB
KEDIRI, BANGSAONLINE.com.com - Gua Jegles, begitu nama gua yang masih dalam pembenahan itu sering disebut. Gua yang terletak di Dusun Jegles, Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri tersebut saat ini memang sedang viral di media sosial (medso...
Sabtu, 10 April 2021 05:43 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.COM – Kapal super raksasa Ever Given ternyata masih ditahan pemerintah Mesir. Kapal milik perusahaan Jepang itu dimintai ganti rugi Rp14 triliun setelah sempat menyumbat Terusan Suez.Loh? Silakan simak tulisan Dahlan Iskan ...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Jumat, 09 April 2021 09:59 WIB
Memasuki Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA)...