Minggu, 09 Mei 2021 21:34

Secara Intelektual, Kitab Kuning Lebih Jujur Ketimbang Karya Modern

Rabu, 27 Januari 2021 18:12 WIB
Editor: MMA
Secara Intelektual, Kitab Kuning Lebih Jujur Ketimbang Karya Modern
Foto: BANGSAONLINE.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., mengungkapkan bahwa para pengarang kitab kuning lebih jujur secara intelektual dan sangat menghargai perbedaan. “Jadi meski ada pendapat yang tak disukai tetap ditampilkan sebagai perbandingan,” kata Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya, merespons rencana Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo yang akan mewajibkan para anggota Polri mengikuti kajian kitab kuning untuk meredam perkembangan teroris.

Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Khortum Sudan itu menjelaskan bahwa para ulama pengarang kitab kuning tidak pernah menunggalkan pendapat atau memonopoli kebenaran. Mereka selalu jujur menampilkan pendapat ulama lain, meski tak sependapat. Ia memberi contoh Bidayatul Mujtahid, kitab kuning yang banyak banyak dibaca kelompok Islam pesantren tingkat intelektual. 

Dalam kitab tersebut, menurut Kiai Imam Ghazali Said, Imam Maliki yang terkenal sangat tekstual dalam istinbat hukum, tetap menghargai pendapat Imam Hanafi.

“Meski Imam Maliki tak setuju dengan pendapat Imam Hanafi. Tapi Imam Maliki mengutip pendapat Imam Hanafi sebagai perbandingan,” kata Kiai Imam Ghazali Said dalam acara Lesehan Bersama Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., dengan topik Kitab Kuning yang dipandu M Mas’ud Adnan di channel youtube BANGSAONLINE TV.

BACA JUGA : 

Tanya-Jawab: Gaji Bulanan, Mobil, Motor, Rumah Apa Wajib Zakat?

100 Hari Pertama Kapolri, Berikut Hasil Kerja dan Manfaatnya

Bupati Sanusi Pimpin Apel Gelar Pasukan Pengamanan Mudik Lebaran 2021

Tanya-Jawab Puasa: Pahala Salat Tarawih Setara Salat Wajib

“Itu beda dengan karya-karya modern, yang katanya kembali pada al-Quran dan Sunnah. Langsung aja divonis. Kalau ini salah! Ini bid’ah,” tegas dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) itu.

Jadi, pengarang karya-karya modern cenderung menyembunyikan pendapat yang tak disukai sehingga tidak ada keragaman pendapat. "Mereka menegasikan dan menihilkan pendapat orang lain yang tidak sepaham," katanya. 

Menurut Kiai Imam Ghazali Said, kiai-kiai di pesantren sudah terbiasa dengan keragaman pendapat sehingga mereka moderat, tidak seperti kelompok Wahabi dan Salafi. “Saya kan punya naskah karya Abu Bakar Baasyir,” katanya.

Menurut dia, sebelum dipenjara Abu Bakar Baasyir sempat memberikan karyanya lewat KH. Hasyim Muzadi agar diterbitkan. “Tapi kalau ini diterbitkan itu bahaya karena dia anti nasionalisme,” tegas Kiai Imam Ghazali yang asal Sampang Madura itu.

Kiai Imam Ghazali Said lalu membahas tentang nasionalisme. Menurut dia, nasionalisme bagi Indonesia adalah berkah. Tapi bagi negara-negara Timur Tengah adalah petaka.

Loh, kenapa? Ikuti saja dialog Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A. dengan M Mas’ud Adnan, Komisaris Utama HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com di BANGSA TV lewat channel youtube mulai sekarang. (tim)

Bernuansa Menara Kudus, Mushola An-Nabaat Diresmikan Wabup Nganjuk
Minggu, 09 Mei 2021 00:50 WIB
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Cita Indonesia Group, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, pertanian, dan peternakan, meresmikan Mushola An-Nabaat yang berlokasi di Desa Batembat Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Peresmian mushola ini dil...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Minggu, 09 Mei 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Tulisan Dahlan Iskan kali ini sangat menyentuh. Tentang prahara rumah tangga pemilik Gedung Empire Palace Surabaya: Gunawan Angkawidjaja dan istrinya, Chin Chin atau Trisulowati.Menurut Dahlan Iskan, Gunawan bukan ha...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...