Mantan Wakabareskrim ini mengatakan, beberapa warga atau kelompok yang tertarik menjadi anggota atau jaringan ISIS di Surabaya atau daerah lainnya di Jatim, Anas mengaku belum ada.
"Nggak ada. Kita tetap antisipasi, supaya masyarakat kita tidak terpengaruh dengan gerakan-gerakan ISIS," terangnya.
Dia menambahkan, pihaknya akan memaksimalkan kinerja Trisula (Babinkamtibmas, Babinsa, Kepala Desa/Lurah) yang dicanangkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.
"Kita terus memaksimalkan kinerja Trisula yang dicanangkan pak Gubernur. Itu supaya apapun yang terjadi di desa itu sudah sedini mungkin kita ketahui," jelasnya.
Terkait keberadaan 7 warga Surabaya yang hilang bersama 9 warga Surakata dan Bali. Serta 16 orang yang diamankan pihak yang berwewenang di Turki, Anas mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil koordinasi interpol Indonesia hingga Kementerian Luar Negeri.
"Kita masih belum pastikan, karena yang punya otoritas adalah pemerintah, dalam hal ini perwakilan kita dari Kementerian Luar Negeri yang ada di sana," ujarnya.
"Hari ini juga sedang rapat (di Kemenlu). Tadi kami sempat komunikasi dengan teman-teman Interpol Indonesia. Hasilnya saya belum tahu," tandasnya.
Sementara mengetahui adanya keanehan ajaran di sejumlah tempat di Surabaya, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan, pihaknya akan mengerahkan Intelkam untuk melakukan pemantauan.
Di sisi lain, Suroya Cholid, warga Surabaya, Jawa Timur mengaku kaget mendengar kabar dirinya termasuk dalam daftar 16 warga negara Indonesia (WNI) yang hilang di Turki dan diduga ikut kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Diberitakan Liputan6.com, ibu 2 anak tersebut tahu masuk dalam daftar WNI yang hilang di Turki justru dari tetangga di rumah lamanya, di Jalan Ampel Melati I, Surabaya serta ramainya pemberitaan di media.
Saat ditelusuri, rumah Jalan Ampel Melati I Nomor 15 Surabaya telah dikontrakkan. Suroya Cholid sendiri telah pindah ke Jalan Sutorejo, Surabaya.
Yang menjadi pertanyaan, kecuali foto diri, semua data WNI yang hilang sangat mirip dengan dirinya, termasuk alamat dan nama yang tertulis yakni Suroya Cholid.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sendiri memastikan ke-16 WNI yang hilang terduga ikut kelompok ISIS, berbeda dengan WNI yang hilang saat ikut tur ke Turki dan belum lama ini ditemukan pihak otoritas setempat.
Memanfaatkan biro perjalanan wisata ke Timur Tengah, kini diduga menjadi modus baru orang-orang yang berniat bergabung dengan kelompok-kelompok ISIS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




