Pejuang Melayu, Riau Merdeka dan Sastrawan

Pejuang Melayu, Riau Merdeka dan Sastrawan Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Ketidakadilan pemerintah pusat dalam pembagian hasil bumi memantik sejumlah tokoh daerah tampil kritis. Termasuk di Riau.

Yang menarik, semua pejuang Riau ber-background sastrawan. O ya?

Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, yang berkunjung ke rumah penuh tangga itu di Disway pagi ini, Kamis 14  Oktober 2021. Di bawah ini BANGSAONLINE.com menurunkan secara lengkap. Khusus pembaca di BaBe, sebaiknya klik "lihat artikel asli" di bagian akhir tulisan ini. Tulisan di BaBe banyak yang terpotong sehingga tak lengkap. Selamat membaca:

DARI pembukaannya saja saya langsung tahu: ini tulisan penyair terkemuka dari Riau, Prof Yusmar Yusuf. Yang ditulis ketika ia kehilangan sahabat baiknya: Datuk Seri Al Azhar. Perhatikanlah pembukaan tulisan Prof Yusmar ini, betapa ia merasa kehilangan:

”Bergurau dalam canda yang merisau. Ketiadaan adalah keadaan yang melingkar. Seraya menjalani ketiadaan sepanjang malam, tidur, saya bangun dengan sejumlah pesan masuk tentang ketiadaan.

Sobat saya Azhar ’terbang ke langit’ selamanya. Lalu, saya terduduk, diam dan menggenang air mata di antara dua pelupuk. Gelombang kedua, ketiadaan: saya kehabisan kata”.

Datuk Seri Al Azhar meninggal di usia 60 tahun. Selasa kemarin. Hanya beberapa hari setelah almarhum menjalani operasi empedu di RS Awal Bros di Pekanbaru.

Al Azhar adalah tokoh Melayu yang paling Melayu. Ia pembela budaya Melayu paling depan. Di akhir zaman Orde Baru, ia tergabung dalam gerakan Riau Merdeka. Bersama Tabrani Rab. Mereka, ketika itu, begitu kecewa atas perlakuan pusat ke daerah seperti Riau: kaya minyak, tapi penduduknya begitu miskin. Salah satu yang termiskin di Indonesia.

Berhasil. Bagi hasil 15 persen untuk daerah penghasil minyak dan gas adalah buah perjuangan mereka. Yang sekarang ikut dinikmati daerah seperti Bojonegoro dan Blora.

Belakangan gerakan Riau Merdeka itu melunak menjadi Riau Berdaulat. Memang gerakan Riau Merdeka tidak sama dengan Gerakan Aceh Merdeka. Tidak sampai angkat senjata. Tapi, orang seperti Tabrani Rab dan Al Azhar memang lantang memperjuangkannya.

Termasuk ketika Riau kemudian juga menjadi pusat kelapa sawit Indonesia. Berjuta-juta hektare tanah Riau berubah menjadi perkebunan sawit. Yang dimiliki konglomerat dari luar daerah. Maka, Gerakan Riau Berdaulat sangat kritis menyoroti perizinan sawit. Mereka mengungkap ada 1,8 juta hektare kebun sawit yang perizinannya tidak beres. Mereka menganggap itu kebun ilegal. Harus dikembalikan kepada rakyat Riau.

Al Azhar belakangan terpilih sebagai ketua lembaga adat Melayu di Riau. Ia-lah presiden Melayu sedunia. Istilah resminya: Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Melayu/Lembaga Adat Melayu Riau.

Tabrani Rab, Yusmar Yusuf, Al Azhar, Dr Chaidir, dan Ny Azlaini Agus adalah tokoh-tokoh pembela Melayu yang utama. Baru Tenas Effendy tokoh sekelas mereka yang meninggal dunia. Ditambah Al Azhar Selasa malam kemarin.

Mereka itu boleh dibilang tokoh Melayu modern. Al Azhar sendiri memperoleh gelar S-2 di Belanda. Ia memperdalam filologi Melayu di Leiden.

Penyair Melayu terkemuka Rida K. Liamsi –nama aslinya bisa Anda baca dari belakang– pinter menjelaskan di mana perbedaan tokoh Melayu baru dan lama.

”Melayu baru lebih memilih sikap mengamuk. Melayu lama lebih memilih sikap merajuk,” ujar Rida yang kumpulan puisinya tak terhingga lagi.

Gerakan Riau Merdeka adalah bentuk amuk mereka. Yang ketika berhasil, ya sudah. Tidak mau lagi mereka merdeka. Berubah menjadi cukup berdaulat. Berdaulat itulah yang kini menjadi fokus perjuangan mereka.

”Apakah ada contoh sikap merajuk di masa lalu?” tanya saya kepada Rida.

”Ada. Merajuk adalah menghindari kekuasaan, menyingkir dan menjauh," jawabnya. Contohnya, menjadi suku Sakai yang terasing pedalaman. Atau menjadi suku Kedayan yang memilih hidup di atas laut.

Yang unik, semua pejuang itu adalah sastrawan dan budayawan. Artinya: mereka juga intelektual. Hanya penyair terkemuka seperti Sutardji Calzoum Bachri yang tidak terlihat masuk ke gerakan sosial seperti itu.