"Jadi, masyarakat jangan sampai terkecoh melihat nama-nama figur yang kerap muncul di survei capres. Karena, kalau kita lihat secara jeli, nama-nama itu saja yang selalu dimunculkan. Bisa jadi survei itu sudah didesain sesuai keinginan pemesan," ungkap Herdi.
Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Dr Jerry Massie mengatakan, figur pemimpin yang bermodalkan pencitraan hanya membawa Indonesia masuk ke jurang krisis yang lebih dalam lagi.
"Pemimpin yang modal pencitraan tentunya ada cost yang tidak kecil untuk itu. Ada biaya spanduk, buzzer, lembaga survei, dll. Tentunya ada sponsor di balik itu. Bila figur itu menang, pastinya ada timbal balik untuk sponsor. Buktinya yang terjadi hari ini, oligarki mampu mengendalikan kebijakan, seperti UU Omnibus Law, dan lain sebagainya," beber Jerry.
Oleh karena itu, Jerry mengingatkan publik agar tak terkecoh dengan permainan oligarki dalam memframing figur yang diciptakannya. Masyarakat, kata Jerry, harus melihat sosok pemimpin yang memiliki banyak prestasi, track record yang jelas, dan berani membela rakyat.










