Modal Rp 20 Juta, Penghasilan Kiai Asep​ Rp 9 M per Bulan, Peserta Munas PGMI Histeris

Modal Rp 20 Juta, Penghasilan Kiai Asep​ Rp 9 M per Bulan, Peserta Munas PGMI Histeris Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mendapat cindramata dari Ketua Panitia Munas II PGMI, Dr Kaswad Sartono, disaksikan Ketua Umum PGMI Syamsudin di Ruang Bir Ali Asrama Haji Makassar, Sabtu (4/12/2021). Foto: M Mas'ud Adnan/ BANGSAONLINE.com

MAKASSAR, BANGSAONLINE.com - Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mendapat undangan untuk menjadi pembicara dalam Musyawarah Nasional (Munas) II Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) di Asrama Haji Makassar, Sabtu (4/12/2021). Namun para peserta Munas PGMI dari seluruh Indonesia itu secara aklamasi justru mendaulat Kiai Asep sebagai Ketua Umum PGMI untuk menggantikan H. Syamsuddin, ketua umum sebelumnya.

Bahkan Syamsuddin sendiri mendukung penuh Kiai Asep sebagai penggantinya. "Kita semua sepakat ya?," kata Syamsuddin kepada peserta Munas yang langsung dijawab sepakat. 

Tapi begitu pimpinan sidang mau mengetukkan palu, Kiai Asep spontan mencegah. “Jangan-jangan,” pinta Kiai Asep kepada pimpinan sidang. Peserta Munas PGMI pun riuh.

Kenapa Kiai Asep menolak jadi ketua umum PGMI? “Pak Syamsuddin itu orang baik dan pendiri PGMI. Biarkan Pak Samsuddin terpilih kembali untuk menyempurnakan kebaikan dan kepemimpinannya agar bisa menyelesaikan pendirian pengurus wilayah di seluruh Indonesia. Seperti di Papua, dan seterusnya,” kata Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.com usai acara.

Kiai Asep justru memilih jadi pembina. “Saya pembina saja. Tapi nanti saya yang membiayai,” kata Kiai Asep yang Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).

Menurut Kiai Asep, Syamsudin selama ini punya komitmen dan konsentrasi penuh untuk memimpin PGMI. “Kelemahan Pak Syamsuddin itu soal finansial. Karena itu, nanti saya bantu. Setiap pengurus DPP PGMI mau ke daerah, membentuk atau mendirikan cabang di daerah, semua tiketnya saya yang nanggung. Saya tak akan mengingkari apa yang saya katakan,” kata Kiai Asep yang pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Amantul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto.

Namun karena Kiai Asep tetap bersikukuh tak bersedia jadi ketua umum, bahkan Kiai Asep pulang ke Pacet Mojokerto, akhirnya pada malam harinya digelar pemilihan ketua umum. Dalam pemilihan itu ada dua calon. Yaitu H Makhrus dan H. Syamsuddin. 

Dalam pemilihan itu H. Syamsuddin meraih 133 suara, sedang H Makhrus 62 suara.

Dalam acara yang dihadiri delegasi PGMI dari seluruh Indonesia itu, Kiai Asep memberikan ceramah tentang pentingya entrepreneur bagi guru madrasah. “Tapi jangan jadi entrepreneur dulu. Harus jadi guru dulu. Karena kalau jadi entrepreneur dulu gak akan mau jadi guru,” kata Kiai Asep yang putra kiai pendiri NU, KH Abdul Chalim itu.

Kiai Asep lalu menceritakan pengalaman pribadinya dalam mengelola Pondok Pesantren Amanatul Ummah sekaligus mengembangkan bisnisnya. Menurut dia, penghasilannya tiap bulan mencapai Rp 9 miliar.

“Penghasilan istri saya dalam satu bulan Rp 2 miliar,” tutur Kiai Asep yang langsung disambut suara riuh peserta Munas PGMI. Mereka berdecak kagum.

Kiai Asep bahkan tidak hanya kaya, tapi juga dermawan. Karena itu BANGSAONLINE.com menjuluki Kiai Asep sebagai kiai miliarder tapi dermawan, karena tiap hari mengeluarkan sedekah hingga ratusan juta. Bahkan pada bulan Ramadan lalu Kiai Asep mengeluarkan sedekah dan zakat sekitar Rp 8 miliar.

Karuan saja para peserta Munas PGMI langsung berebut mengacungkan tangan saat sesi tanya jawab. Bahkan pengurus PGMI dari Sulawesi Selatan menyebut Kiai Asep sebagai waliyullah. Menurut dia, Kiai Asep seorang yang sempurna.

“Kiai Asep ini seorang waliyullah, sempurna. Harta melimpah, jaringan luas, dan tawaddlu,” kata peserta Munas PGMI tersebut saat maju mengajukan pertanyaan. Ia mengaku sangat beruntung karena bisa bertemu Kiai Asep dalam forum Munas PGMI ini.

Simak berita selengkapnya ...