Mendikdasmen Prof Dr Abdul Mu'ti, M.Ed bersama Prof Dr kH Asep Saifuddin Chalim, MA dan Dr Muhammad Al Baraa serta Prof Zainuddin Maliki dalam acara pengajian akbar di Pondok Pesantrern Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Sabtu (7/2/2026). Foto: M. Mas'ud Adnan
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof Dr Abdul Mu’ti, M.Ed ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya diwarnai penuh gelak tawa, Sabtu (7/2/2026). Maklum, saat menyampaikan pidato sambutan di depan para guru dan ribuan santri Amanatul Ummah, Menteri Abdul Mu’ti banyak melontarkan joke-joke segar terutama tentang relasi NU dan Muhammadiyah.
Tak main-main! Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengaku hafal tahlil berbagai versi. Padahal tahlil selama ini identik dengan ritual keagamaan khas NU. Abdul Mu’ti kemudian bercerita tentang hubungannya dengan kader-kader NU, diantaranya Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Karena ia pernah menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah yang eranya bersamaan dengan Gus Ipul sebagai Ketua Umum GP Ansor.
BACA JUGA:
- PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Calon Rais 'Aam PBNU
- Antre Sedekah Kiai Asep, Ratusan Orang Datang Sejak Pukul 3 Malam di Siwalankerto Surabaya
- Ketua Panitia Muktamar NU Harus Adil dan Netral, Bukan Kubu Kiai Miftah, Bukan Kubu Gus Yahya
- Kiai Asep Bertemu Dubes Mesir Bahas Pendidikan, Mesir Siap Kirim 1.000 Guru Bahasa Arab
“Kalau ada pengajian di Ansor yang disuruh mimpin tahlil saya. Karena saya insyaallah masih hafal versi-versi tahlil. Tahlil versi Kudus, tahlil versi Banyuwangi, versi Solo saya hafal. Kulluhum saya hafal semuanya, insyaallah tahlilnya juga tidak keliru,” ujar Menteri Abdul Mu’ti yang langsung disambut ger para ustadz dan ribuan santri Amaantul Ummah.
“Ini menunjukkan bagaimana kami, para pemimpin muslim di negeri ini, terutama baina Muhammadiyah wa Nahdlatul Ulama memiliki kedekatan personal proximity. Sehingga banyak urusan negara bisa diselesaikan, kalau dua organisasi ini memiliki pandangan yang sama, visi yang sama,” ujar Menteri Abdul Mu’ti yang datang ke Amanatul Ummah didampingi istrinya, Masmidah.

Menurut dia, NU dan Muhammadiyah itu ibarat dua sayap burung garuda. “Kalau satu sayap itu patah, maka garuda tidak bisa terbang,” ujar guru besar UIN Syarif Hidayatullah yang banyak menulis buku dan opini di media mass itu.
“Agar garuda itu terbang tinggi, maka dua sayap garuda itu harus mengepak seiring, seirama, untuk tinggi dan hebatnya garuda yang menjadi milik kita bersama,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan.
“Tapi sayap kanan jangan ditukar sayap kiri. Biarlah yang kanan tetap di kanan. Yang kiri tetap di kiri,” ujar Abdul Mu’ti.
“Artinya apa. Biarlah NU memiliki cirinya sebagai lembaga dan jamiyah NU. Juga Muhammadiyah memiiki cirinya sebagai organisasi dan persyarikatan Muhammadiyah,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga merespons aturan tegas Kiai Asep yang melarang para santri Amanatul Ummah merokok. Saat menyampaikan sambutan Kiai Asep mengatakan bahwa rokok tidak hanya mendekati narkoba. Tapi rokok itu sendiri adalah narkoba dan peluru ganas yang dilesatkan sehingga membuat generasi muda sakit-sakitan dan bahkan mati secara mengenaskan.
“Padahal setahu saya di NU merokok itu hanya menghukumi makruh saja. Yang mengharamkan rokok itu Muhammadiyah. Jadi sudah seperti Muhammadiyah saja Pesantren Amanatul Ummah,” kelakar Abdul Mu’ti yang lagi-lagi disambut tawa.
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Mendikdasmen mengaku kedatangannya ke Amanatul Ummah untuk melamar Kiai Asep sebagai anggota Dewan Pendidikan Dasar dan Menengah di kementeriannya. Ia mengaku datang secara khusus untuk meminang Kiai Asep.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




