Tafsir Al-Kahfi 79-81: Guru Menjelaskan Jawaban Soal Setelah Ujian

Tafsir Al-Kahfi 79-81: Guru Menjelaskan Jawaban Soal Setelah Ujian Ilustrasi. (foto: Pixabay)

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

79. Ammaa alssafiinatu fakaanat limasaakiina ya’maluuna fii albahri fa-aradtu an a’iibahaa wakaana waraa-ahum malikun ya/khudzu kulla safiinatin ghashbaan

(Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.)

80. Wa-ammaa alghulaamu fakaana abawaahu mu/minayni fakhasyiinaa an yurhiqahumaa thughyaanan wakufraan

Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.

81. Fa-aradnaa an yubdilahumaa rabbuhumaa khayran minhu zakaatan wa-aqraba ruhmaan

Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).

TAFSIR AKTUAL

Setelah diuji tiga kali dan tidak lulus, Musa harus meninggalkan guru spiritualnya yang sudah susah payah dicari-cari. Tentu saja Musa sangat kecewa. Tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Kebesaran jiwa guru Khidir adalah tidak marah sama sekali saat calon muridnya membandel.

Meskipun pada akhirnya harus diusir, tapi tidak berarti itu kegagalan total. Musa tetap menjadi nabi, meski gagal menjadi murid Khidir. Khidir tetap berkenan memberi wejangan berharga, tapi terbatas hanya seputar apa yang diujikan saja. Yakni pada seputar perahu yang dirusak, anak kecil yang dibunuh, dan pagar rusak yang direnovasi tanpa upah.

Andai saja Musa mau bersabar, mau diam sebentar dan tidak menyoal apa-apa sampai Khidir sendiri yang menjelaskan tiga persoalan membingungkan tersebut, niscaya Musa dan seluruh umat di dunia ini akan mendapatkan ilmu menakjubkan, hikmah muta’aliah, hikmah tingkat tinggi dari seorang mahaguru Khidir A.S.

Dari sini kita mengerti, bahwa tidaklah bahwa kecerdasan, intelegensi (IQ) itu satu-satunya yang menyebabkan seseorang sukses. Cerdas memang perlu, tapi tidak kalah pentingnya adalah emosi, kesabaran, kedewasaan, kematangan berpikir. Pada ayat ini, bahwa Musa gagal dalam uji emosi dan kesabaran (EQ), bukan pada IQ atau kecerdasan. Justru temuan akhir, malah spiritual (SQ) menjadi penyempurna keberhasilan, mendampingi IQ dan EQ.

Khidir A.S. memberi contoh kepada semua guru, pengajar, atau pendidik. Bahwa, meskipun anak didik tidak bisa menjawab soal ujian semester dengan baik, tidak naik kelas, atau bahkan tidak lulus ujian akhir, tapi tidaklah boleh disayangkan apalagi dimarahi. Tetap didekap dan dirangkul dalam kehangatan ilmu dan kasih sayang.

Terhadap kepentingan ilmu, Khidir tidak membiarkan begitu saja materi uji yang tidak bisa dijawab sang murid. Karena hal itu akan menimbulkan kebimbangan berlarut-larut dan ketidakpastian keilmuan murid. Khidir A.S. berkenan menjelaskan setiap soal yang diberikan dan tidak dimampui sang murid menjawabnya. Dengan demikian murid menjadi mengerti hakikat ilmu dan jawaban yang sebenarnya.

-------

REFLEKSI UJUNG TAHUN 2020

Berikut nanti akan dipapar evaluasi Khidir A.S. terkait tiga materi tes yang tidak bisa dijawab Musa A.S.. Namun ada baiknya kita mengevaluasi diri sebelum mengikuti evaluasi Khidir nanti. Hal demikian itung-itung sebagai tulisan sela memanfaatkan moment berharga, akhir tahun 2020.

Bahwa hal yang paling populis mewarnai tahun ini adalah Corona, Covid-19, atau pandemik. Hampir semua tatanan kehidupan berantakan karenanya, tidak hanya ekonomi, keimanan, pola pikir bahkan ibadah pun malang kadak dan nggak genah.

Dalam diri manusia itu ada sensorial (usaha lahiriah, prokes) dan ada spiritual (iman, tawakkul). Jika salah satunya dominan, maka yang lain pasti kalah. Jika lebih dominan protokol kesehatannya, maka “Tuhan”nya akan terpinggirkan dan sebaliknya. Agama mengajarkan agar keduanya dipakai secara benar, sementara kaum sufi lebih mengedepankan spiritual.

Ingat kisah pak ustadz tentang nabi Musa A.S. yang sakit gigi. Merengek-rengek memohon kesembuhan kepada Allah SWT. Disuruhnya ambil daun yang ditunjuk, dihaluskan, dan dilaburkan di gigi yang sakit. Dengan izin-Nya, sembuh. Lain waktu sakit gigi lagi dan Musa langsung ambil daun yang sama, digunakan dengan cara yang sama dan tidak sembuh.

Musa protes: “Ya Tuhan, gimana resep-Mu kok tidak manjur, seriuskah petunjuk-Mu itu?”. Tuhan menjawab: “Dulu, ketika sakit gigi pertama, kamu meminta kesembuhan kepada Aku, lalu Aku sembuhkan lantaran daun. Tapi kini kamu tidak meminta kesembuhan kepada-Ku, melainkan langsung kepada daun. Ya silakan protes pada daun itu..”.

Masa pandemi ini keimanan seseorang benar-benar diuji. Dalihnya mematuhi protokol kesehatan, tapi sejatinya sudah “kehilangan” Tuhan-nya, cuma tidak terasa apalagi diakui. Pajabat, aparat bisa bertindak erasional dan congkak. Lihatlah, menteri kesehatan meriwayatkan dari WHO, bahwa “yang wajib bermasker hanya yang sakit saja”.

Tapi pak polisi mengoperasi dan mendenda pengendara mobil yang nampak tidak pakai masker walau sendirian, di dalam mobil pribadi, ber-AC, mewah, serta sudah disteril. Mana lebih aman: sendirian di dalam mobil tertutup atau pakai masker di luaran? Tidak dimengerti, nalar apa ini.

Bangsa ini masih ingat, dulu ada ilmuwan asing memberi tahu, bahwa Corona sudah masuk Indonesia, namun menteri itu mencak-mencak. Pemerintah mempersilakan kapal pesiar bersandar di perairan pertiwi ini, bahkan membuka pariwisata seluas-luasnya dengan memangkas harga tiket. Sok dan barlagak. Akhirnya mingkem setelah melihat kenyataan.

Polemik di televisi tentang aduan masyarakat, di mana orang sakit cenderung dicovid-covid-kan. Jenazah dalam peti mati tidak boleh dibuka, langsung dikubur dengan jaminan sudah dimandikan, sudah dikafani, dst. Keluarga tidak percaya dan dibuka paksa, ternyata dusta. Karena sangat banyak, rasanya itu beneran dan bukan hoax.

Warga masjid masih terngiang, betapa pemerintah serius sekali menutup masjid, keras bahkan “kejam”, tapi tetap membuka pasar, perusahaan, dll. Meskipun sudah mematuhi protokol kesehatan, tetap saja masjid harus ditutup. Ilmuwan, kiai, ustadz pro pemerintah meneriakkan dalil-dalil agama mendukung pemerintah. Bahkan, masjid istiqlal-pun sempat tidak menyelenggarakan shalat jumah, padahal jamaah sudah datang memadati dengan protokol kesehatan super ketat.

Sekarang dan sekarang, justru si pandemi itu jauh lebih ganas dan lebih banyak menelan korban. Logikanya, fatwa menutup masjid itu eksis terus, bahkan malah lebih kenceng. Dan tiba-tiba pemerintah membolehkan masjid dibuka kembali. Kasihan para ustadz pesanan itu kecele dan tertipu. Dalil-dalil yang dulu mereka teriakkan, kini entah ke mana?

Terpujilah ilmuwan yang punya prinsip dan berkarakter serta tidak mudah apriori terhadap syahwat pemerintah. Sejatinya mereka berilmu tinggi, tapi karena menjabat atau berkepentingan, maka bisa jadi fatwanya tidak sejernih ilmunya.

Ini sekadar muhasabah, bukan mengungkit masa lalu, tapi proyeksi ke depan lebih baik. Utamanya kini, - konon – virus Corona bermutasi. Moga tidak lebih bijak dan Tuhan selalu memberkahi. Jika mau sehat, maka kita harus siap menelan pil sepahit apa pun. Barakallah fikum.

----------------

Pertama, Tentang Perahu yang Dirusak

Bahwa perahu itu milik beberapa orang miskin yang berjumlah sekitar sepuluh orang. Karena keterbatasan dana dan ingin bisnis bidang transportasi laut, mereka urunan untuk membeli satu perahu. Kemudian dioperasikan dan hasilnya dibagi bersama.

Tapi jalur pelayaran atau penyeberangan yang dilalui Khidir dan rombongan ini merupakan jalur tidak aman. Sering terjadi perompakan dan pembajakan. Mereka tidak segan-segan merampas barang-barang bawaan termasuk perahu yang melintas di jalur tersebut. Apalagi perahu yang dipandang punya nilai jual seperti milik kongsi para miskin ini. Qiraah lain membaca: “wa kan wara’ahum malik ya’khudz kull safinah shalihah ghasba”. Ada tambahan kata “shalihah” (bagus) sebagai sifat lafadh “safinah”.

Menuju pulau tujuan, Khidir sudah mengerti, bahwa di depan, di tengah laut sudah ada bajak laut yang menghadang dan hendak merompak. Perompak itu bernama Hudad ibn Budad yang sudah masyhur sebagai pembajak kejam. Agar perahu yang ditumpangi tidak menarik perhatian, maka perahu itu dirusak, sehingga nampak tenggelam. Nyatanya, pembajak itu berlalu begitu saja dan tidak tertarik. Maka selamatlah semua.

Ada dua kecerdasan yang dimiliki Khidir, hal mana tidak dimiliki Musa. Pertama, ada kalkulasi sangat matang yang dimiliki seorang Khidir A.S., yaitu lebih baik kehilangan barang sedikit demi menyelamatkan barang besar daripada kehilangan semuanya. Perahu rusak, tapi selamat lebih dipilih daripada perahu utuh tapi membahayakan. Bisa jadi perahu dirampas dan orangnya dibunuh.

Dalam kaedah fiqhiyah disebut “irtikab akhaff al-dlararain”. Mengambil risiko yang paling ringan dari risiko-risiko besar yang mesti dihadapi. Anda sedang berkendara dan bersama anda rombongan orang-orang shalih dalam satu mobil. Sebagai driver, anda sudah berada di jalur yang benar. Tetapi di depan ada bus ugal-ugalan yang mendahului kendaran lain dan memaksa masuk.

Jika anda tidak mengalah, tidak keluar dari badan jalan, maka tabrakan pasti terjadi dan risikonya sangat besar dari kedua belah pihak.Tapi jika anda banting kiri dan keluar dari badan jalan, maka akan menabrak seorang penjual bakso bersepeda pancal. Dalam agama, harus pilih banting kiri dengan risiko hanya satu orang korban. Dan itu bukan kejahatan, tapi keterpaksaan.

Simak berita selengkapnya ...