Politik Saling Khianat, Mahathir Mohamad Tamat, PM Malaysia Ditentukan Siang Ini

Politik Saling Khianat, Mahathir Mohamad Tamat, PM Malaysia Ditentukan Siang Ini Dr Mahathir Mohamad. Foto: net

KUALA LUMPUR, BANGSAONLINE.comPolitik Malaysia masih terus bergolak. Pertarungan ini berkisar pada kelompok pribumi, Islam dan Tionghoa. Semula UMNO menjadi partai raksasa, tapi perilaku korupsi telah menghancurkan kepercayaan publik terhadap “Golkar”-nya Malaysia itu.

Lalu siapa yang akan ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Malaysia? atau Muhyidin Yasin? Benarkah tokoh politik legendaris Dr Mahathir Mohamad sudah tamat riwayat politiknya?

Silakan baca tulisan wartawan kawakan, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA pagi ini, Selasa 22 Nopember 2022. Atau di BANGSAONLINE.com di bawah ini.

PEMILU terakhir, Pemilu ke-15, Sabtu lalu, bikin perbedaan di Malaysia kian nyata. Golongan besarnya kian terlihat: Islam (PAS), nasionalis pribumi lama (UMNO), nasionalis pribumi tengah kanan (PPB), nasionalis pribumi tengah (PKR), dan Tionghoa baru (DAP).

Peran sejarah Dr Mahathir Muhammad sudah habis. Bahkan Dr M sudah tidak bisa terpilih sebagai anggota DPR di dapil seumur hidupnya: Langkawi. Ia bukan siapa-siapa lagi, kecuali panutan penting bagi orang yang mulai tua: umur 97 tahun masih menjadi calon anggota legislatif.

Tokoh utama pribumi di sana kini tinggal dua: yang sudah operasi belikat dan Muhyiddin Yasin yang sudah operasi jantung.

Dua-duanya kader utama Dr M. Dua-duanya pernah jadi deputi perdana menteri. Dua-duanya, dalam perjalanan tuanya, memusuhi dan dimusuhi Dr M.

Dua-duanya kini saling bermusuhan.

Dulu, ketika nasionalis pribumi masih bersatu di UMNO, partai pribumi itu berhasil berkuasa. Sampai 60 tahun. Sangat berkuasa. Terutama di bawah Dr Mahathir Muhammad. Pakai tangan besi. Korupsinya pun merajalela, meski harus diakui kemajuan Malaysia juga luar biasa.

Parahnya tingkat korupsi itu mencapai tipping point di zaman Perdana Menteri Najib Razak. UMNO pun runtuh. Najib masuk penjara. Bersama istrinya.

Pribumi yang selama itu hanya pecah menjadi dua, nasionalis dan Islam, lantas pecah jadi tiga: Islam, Pribumi nasionalis lama (UMNO) dan pribadi aliran tengah (PKR).

Golongan Tionghoa idealis, yang selama ''Orde Baru'' lemah, bangkit jadi kekuatan solid Tionghoa: partai DAP. Partai Tionghoa yang dulu ikut ''Orde Baru'' habis sama sekali: MCA.

Lima kekuatan besar di Malaysia itu pun masuk ke gelanggang Pemilu demokratis pertama dalam sejarah kemerdekaan Malaysia: Pemilu ke-14, tahun 2018.

Pribumi nasionalis lama masih mendapat suara terbanyak: 54 kursi. Sampai ada yang bilang Golkar-nya Malaysia belum bisa diruntuhkan.

Pribumi nasionalis tengah melejit, mendapat 47 kursi.

Golongan Tionghoa baru menyikat habis kursi Tionghoa, 42 kursi.

Aliran Islam memperoleh 18 kursi.

Tidak satu pun partai yang memperoleh 51persen. Tidak ada partai yang bisa membentuk pemerintahan. Mereka harus berkoalisi.

Semangat anti-UMNO membuat Pribumi tengah berkoalisi dengan Tionghoa baru. Sama-sama berjuang meruntuhkan UMNO. Ditambah kursi dari partai Warisan di Sabah.

Koalisi ini berhasil membentuk pemerintahan Pakatan Harapan dengan Dr Mahathir Muhammad sebagai perdana menteri 'sesepuh'.

Dr sebagai ''komandan'' pribumi tengah, harus sabar. Setelah Mahathir memerintah selama 2 tahun barulah bisa naik. Anwar baru saja keluar dari penjara dan baru saja mendapatkan pengampunan dari raja.

Sang ''sesepuh'' kurang sakti mempersatukan Anwar dan Muhyidin. Koalisi Pakatan Harapan pecah. Muhyidin Yasin keluar. Membentuk partai sendiri, berorientasi pada pribumi tapi tidak mau Islam juga tidak mau Tionghoa. Ia tengah-kanan. Bahkan Muhyidin lantas membentuk koalisi Perikatan Nasional bersama UMNO. Muhyidin jadi perdana menteri.

Simak berita selengkapnya ...