Kotak kaca di altar gereja, tempat di mana kitab Injil kuno disimpan. Foto: Ist
KOTA KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Jelang perayaan Natal pada 25 Desember 2022, gereja-gereja Kediri mulai berbenah. Tak terkecuali di Gereja Merah yang merupakan bangunan cagar budaya peninggalan Belanda dan berumur 112 tahun di Kota Kediri.
Gereja Merah ini, berarsitektur sangat khas bergaya zaman kolonial Belanda dengan pintu dan jendela yang masih asli terbuat dari kayu jati dan kaca, serta bangunan terbuat dari batu bata. Mimbar, kursi, dan lemari juga masih tetap seperti yang dulu, tidak diubah.
BACA JUGA:
- Munas-Konbes NU 2026 Dibuka Malam ini di Kediri, Gus Ipul: Insyallah Presiden Hadir di Penutupan
- Sidak Timpora di Ponpes Wali Barokah Kediri, Seluruh Dokumen Santri Asing Dinyatakan Lengkap
- Munas-Konbes NU 2026 di Ponpes Al Falah Kediri Dijaga 400 Personel Banom
- Kebakaran Kandang Ayam di Kediri, Kerugian Capai Rp1,5 Miliar
Majelis Jemaat Gereja Merah, Christian Defi, menjelaskan bahwa pihaknya mulai mempercantik diri, pernak pernik natal mulai dipasang di dinding gereja termasuk pohon natal ketika merakan momentum setahun sekali ini.
Ia menyebut, Gereja Merah memiliki nama asli Gereja Protestan Barat Immanuel. Gereja yang terletak di selatan taman Sekartaji, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, berdasarkan catatan prasasti, diresmikan pada 21 desember 1904 oleh Pendeta Dominus j.a.Broers.
Christian menjelaskan, nama gereja merah mulai digunakan pada 1996, setelah seorang pendeta kala itu memutuskan merubah warna gereja dari putih gading ke warna merah.
"Hingga kini warna (merah) tersebut tetap dipertahankan, sebagai ciri khas gereja yang kini masuk dalam cagar budaya," ujarnya kepada awak media, Selasa (20/12/2022).
Di Gereja Merah, lanjut Christian juga masih tersimpan rapi kitab injil kuno yang kini telah berusia hampir satu setengah abad. Kitab injil kuno dengan ukuran 43x29 cm, dengan ketebalan 10 cm tersebut diterbitkan pada september 1867 oleh de Nederlandtche Bijbel Compagnie dengan Bahasa Belanda.
"Kitab Injil tersebut disimpan di kotak kaca di altar gereja. Meski warna kertasnya telah berubah setengah cokelat, namun tulisannya masih jelas dan dapat terbaca. Kitab Injil terbitan tahun 1867 tersebut dapat bertahan lama karena dilapisi dengan sampul kulit yang cukup tebal," pungkasnya. (uji/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




