Basuki dari Aliansi LSM Kediri (kiri) bersama Dedik, orang tua korban bullying (dua dari kanan) didampingi anggota LSM lainnya. Foto: MUJI HARJITA/BANGSAONLINE
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Dugaan bullying yang dilakukan oknum guru SMPN 2 Kras, Kabupaten Kediri, terhadap salah satu siswinya berbuntut panjang. Beredar kabar, bahwa LSM dan jurnalis yang mendampingi orang tua korban dugaan bullying dituding melakukan pemerasan hingga puluhan juta rupiah.
Mewakili Aliansi LSM Kediri, Basuki, menampik tuduhan itu dan menyatakan pernah bertemu dengan pihak sekolah. Saat itu, pihaknya tidak bicara terkait angka dan SMPN 2 Kras ingin menyelesaikan persoalan ini secara musyawarah dan kekeluargaan.
BACA JUGA:
- Ular Piton 2 Meter Muncul di Pekarangan Rumah Warga, Damkar Pos Grogol Kediri Lakukan Evakuasi
- Ketua Caretaker DPD AMPI Ajak Gen Z Lestarikan Kuliner Legendaris Berbumbu Rempah
- Pengukuran Ulang Jadi Solusi Sengketa Tanah di Tawang Kediri
- Bupati Kediri Salurkan Bantuan Benih Jagung dan Traktor untuk Petani Ngadiluwih
"Bila pihak sekolah minta permasalahan ini diselesaikan dengan musyawarah, maka akan didatangkan pihak korban. Kami lalu datang lagi bersama korban dan orang tuanya. Setelah dilakukan musyawarah, ternyata tidak menemukan titik temu," ujarnya, Rabu (4/10/2023).
"Jadi bila diluar beredar, bahwa ada LSM dan jurnalis telah melakukan pemerasan, itu tidak benar sama sekali. Itu adalah pernyataan sepihak. Mestinya pihak lain juga diklarifikasi. Jadi saya membantah keras telah terjadi dugaan pemerasan tersebut," imbuhnya.
Dedik Tri Prastyawan selaku orang tua korban bullying mengatakan, pihaknya menuntut agar Disdik Kabupaten Kediri menjatuhi sanksi tegas berupa pemecatan kepada pelaku bullying, serta menonaktifkan Kepala SMPN 2 Kras.
Ia menceritakan, awalnya pada tanggal 20 September 2023 lalu, anaknya (korban dugaan bullying) pulang sekolah nangis. Ketika ditanya, anaknya tidak mau jawab. Karena tidak mau menjawab, lanjutnya, ia lalu minta tolong adiknya untuk bertanya.
"Akhirnya adik saya yang nanya, anak saya bercerita katanya dikata-katai (oleh oknum guru) dengan kata-kata tidak senonoh. Mendengar itu, saya marah, saya langsung mendatangi rumah oknum guru tersebut tapi yang bersangkutan tidak ada di rumah," tuturnya.






