Khofifah Effect Perbanyak Suara Prabowo-Gibran di NU dan Muhammadiyah, Kok Bisa?

Khofifah Effect Perbanyak Suara Prabowo-Gibran di NU dan Muhammadiyah, Kok Bisa? Bincang santai di studio Podcast Wes Wayahe, Rumah Asprasi TKD Prabowo-Gibran Jatim, Jalan Diponegoro, Surabaya. Foto: Ist

Apa sebab dukungan itu? Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim ini, memastikan ada sinkronisasi Prabowo-Gibran dengan concern Muhammadiyah, yakni bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Hal itu dibuktikan dengan hasil survei Poltracking yang menyebut bahwa warga Muhammadiyah yang ada di barisan Paslon Prabowo-Gibran mencapai 42 persen.

Padahal, karakter pemilih Muhammadiyah itu suaranya otonom, mandiri, dan tidak tergantung elit. Kondisi itu membuat Muhammadiyah, terjaga menjadi circle society.

"Di Muhammadiyah, memilih pemimpin itu memakai kriteria dan cukup memakai isyarat. Cenderung logika dan kecerdasan akal," sebutnya.

Karakter dasar suara Muhammadiyah sulit dimobilisasi. Tidak ada gus, tapi yang ada hanya gaes. Semua pribadi memiliki otoritas. Jika ingin dukungan maksimal, harus benar-benar beririsan dengan program Muhammadiyah.

Siapa yang bisa meyakinkan itu, akan punya keuntungan elektoral. Soal satu putaran atau dua putaran terserah masyarakat. Plus misnya ada. Berpulang kepada masing-masing.

Sementara itu Gus Miftah, Wakil Sekretaris PCNU dengan gamblang mengatakan tradisi warga Nahdliyin adalah nderek kiai.

Jika kiai mendukung ke Paslon 02, maka otomatis warga NU akan mengikuti. "Tradisi NU itu tawadhu kepada kiai patannya," ujarnya.

Namun secara organisasi, struktural pengurus NU tidak boleh terlibat di politik praktis.

"Otomatis terlibat di model Pemilu langsung ini yang one man one vote. Itulah sebabnya warga NU pasti masih tanya ke tokoh tadi, harus ke mana, setelah itu mereka mengikuti patannya tadi," pungkasnya. (mdr/mar)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mobil Angkot Terbakar di Jalan Panjang Jiwo, Sopir Luka Ringan':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO