Singgih menjelaskan, munculnya paslon tunggal dalam Pilkada karena para partai politik peraih kursi DPRD kompak memberikan rekomendasi kepada satu paslon.
"Cara borong rekom menjadi jalan paling mudah memenangkan pilkada. Apalagi bagi kandidat incumbent yang punya elektabilitas dan tingkat kepuasan yang tinggi," ujar Dosen FISIP UPN Veteran Jawa Timur tersebut.
Menurutnya, terdapat potensi tukar guling rekomendasi partai antar kabupaten/kota lain sehingga terjadilah paslon tunggal. Tentu kalkulasi praktis dari parpol adalah peluang menang.
"Menggerakkan mesin politik parpol dan relawan tentu berbiaya tinggi, belum tentu menang. Parpol ingin ikut pemenang pilkada. Oposisi bukan menjadi opsi ideal, mereka bakal puasa dari kue kekuasaan," cetus Singgih.










