Pengalaman Tersesat di Gunung Arjuna: Berputar-Putar di Jalur yang Sama! (3)

Pengalaman Tersesat di Gunung Arjuna: Berputar-Putar di Jalur yang Sama! (3) Sulthon (penulis), saat melakukan pendakian di Gunung Arjuna tahun 2015.

“Thon! Sulthon! Nang ndi!? Ayo balik!” teriak Erwan.

“Loh ayo, Mas. Tak enteni kene, (tak tunggu sini),” sahut saya kepada Erwan.

Toh saya lebih dulu dari Erwan. Sedangkan dia masih jauh di belakang, bahkan saya sudah di tengah perjalanan melipir melewati gundukan ke tiga. Tapi dia tidak peduli dengan jawaban saya. Yang dia mau, saya harus kembali saat itu juga. Kenapa? Karena ternyata, dia melihat saya sedang berjalan menuju jurang!

Saya tidak sedang pergi ke jurang! Saya berjalan melewati jalur yang jelas, dan jalur ini benar-benar nampak. Buktinya? Nyoman setuju dan mengikuti saya. Benar, dia juga melihat jalurnya!

Karena Erwan masih marah-marah. Pada akhirnya Nyoman memutuskan untuk mengalah dan memilih untuk putar balik. Baiklah, tidak masalah. Saya akan tetap melanjutkan lewat jalur ini, toh sebentar lagi sampai.

“Thon! Cepet balik!” teriak Erwan lagi.

“Loh ayo, Mas. Nek balik yo tak enteni kene (kalau balik ya tak tunggu sini),” jawaban saya tetap sama.

“Kon lapo nang jurang iku!? (kamu ngapain ke jurang!?)” tanya Erwan dengan nada tinggi.

Saya bingung, apa yang dimaksud Erwan. Tapi saya tidak ingin berdebat lebih lama, dan saya akan menuruti perkataannya.

Lantas, apa yang terjadi? Setelah saya balik badan, tiba-tiba jalur yang saya lalui hilang dan tertututup pepohonan! Bingung? Sudah pasti! Seketika saya berzikir, karena saya paham betul keadaan itu. Ini sangat tidak wajar.

“Ampun, Mbah. Ampun,” ucap saya dalam hati.

Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menerobos jalan yang tertutup pepohonan. Untungnya pepohonan itu tidak tinggi, sehingga saya masih bisa melihat posisi Erwan dan Nyoman.

Tidak hanya itu. Hal aneh lainnya adalah, tiba-tiba posisi saya berada di belakang. Padahal, Erwan belum jalan sama sekali, dan saya sudah berjalan jauh di depan Erwan.

Nyoman melihat wajah saya dengan tatapan heran. Seakan dia tahu, ada hal aneh yang terjadi pada diri saya.

“Ono opo, Thon? (ada apa),” tanya Nyoman perlahan, setelah saya berhasil kembali ke jalur utama.

“Sek, engkuk ae ceritane (sebentar, nanti saja ceritanya),” jawab saya berbisik.

Kami melanjutkan perjalanan dengan suasana hening. Dan saya, tidak berani menceritakan apa yang terjadi saat masih di lokasi tersebut.

Setelah sampai bawah, baru saya berani menceritakan apa yang saya alami saat di Pasar Setan. Bagaimana tanggapan Erwan? Ternyata ia bercerita bahwa saat itu Erwan melihat saya sedang berjalan menuju jurang.

Saya jadi berpikir, apakah saya melakukan kesalahan? Apakah salah seseorang penasaran? Apakah rasa penasaran saya menyinggung penunggu gunung?

Yang jelas, tidak ada sedikit pun niatan menyepelekan atau merendahkan. Namun, itu semua menjadi pengalaman bagi saya. Dan yang terpenting, kami semua berhasil pulang dengan selamat. (msn)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Ngetrail Jelajah Alas Pinggan Pasuruan, Panen dan Cicipi Kopi Lereng Gunung Arjuno':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO