Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Terma “himl” ini sering dipakai untuk membahasakan beban dosa yang mesti dipikul oleh pelaku maksiat kelak di hari kiamat.
Bahkan di dalam al-Hadis ada ilustrasi, betapa ada makhluk aneh yang sangat buruk rupa dengan bau busuk menjijikkan mendekat kepada seseorang.
Tiba-tiba dia merangkul dari belakang, ngamplok di punggung meminta gendong secara paksa kepada orang yang dituju tersebut. Orang itu meronta-ronta tetapi tidak bisa melepaskannya.
Dialog terjadi: Anda siapa?
Makhluk menjijikkan tersebut menjawab: Aku adalah perwujudan dari dosa-dosamu yang telah kamu lakukan saat di dunia. Ayo, terus gendonglah aku. Ini konsekuensinya.
“...wa tara al-nas sukara wa ma hum bisukara”, qiraah lain pakai kata “sakra” sebagai padanan kata “sukara”. “Sakra” ikut wazan “Fa’la” bentuk jama’ taksir dari mufrad “sakran”.
Ibn Malik dalam alfiyahnya memobolehkan penjamakan model tersebut: Sukara dan Sakra. Maknanya “mabuk, teler, mendem”.
Bagaimana manusia normal bisa kehilangan akal sehatnya alias mabuk. Gambarannya seperti orang mengalami bencana alam dadakan yang sangat dasyat dan mengerikan. Orang waras yang sedang keenakan bersetubuh bisa mendadak keluar kamar ke jalan raya kontal-kantul tanpa pakai celana.
Tetapi kaum sufis memaknai tesis ini sebagai sindiran terhadap orang-orang kafir atau mereka yang mabuk dunia. Mereka telah tertutup akal sehatnya dan mudah sekali melakukan hal-hal yang tidak masuk akal menurut aturan agama. Seperti orang-orang yang suka berbuat riya’, show only, pamer, dan suka sekali dipuja.
Bagaimana mungkin orang beriman bisa mempunyai deposito triliunan tanpa sedekah yang ideal. Bagaimana bisa punya koleksi sekian banyak mobil mewah hanya untuk kebanggaan.
Punya kuda sekian dengan jenis terunggul di dunia. Kandangnya saja pakai AC dan hanya untuk koleksi. Dan sedekahnya sungguh sangat tidak imbang dibanding hobinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




