Ilustrasi. Jemaah haji sedang melaksanakan ibadah thawaf di Baitullah Makkah. Foto: viva
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Inilah kisah menakjubkan. Kisah kemabruran haji ini ditulis oleh Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Irsyadul al-‘Ibad. Kisah ini kini bertebaran di media sosial. Diantaranya dishare oleh Dr (HC) KH Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Berikut kisahnya:
Usai menunaikan seluruh rangkaian manasik haji, Abdullah bin al-Mubarak tertidur di Masjidil Haram. Ia bermimpi melihat dua malaikat yang sedang bercakap-cakap di sana. Dalam percakapan itu disebutkan bahwa dari enam ratus ribu orang yang berhaji pada tahun tersebut, tidak satu pun ibadah hajinya diterima oleh Allah. Namun, pada akhirnya Allah menerima seluruh ibadah haji mereka berkat seorang tukang sol sepatu bernama Muwaffaq yang tinggal di Damaskus.
BACA JUGA:
- Transformasi Digital Kemenhaj, Data Jemaah hingga Peta Layanan Haji Kini Terbuka untuk Umum
- Awas Ditinggal Kabur! Jemaah Haji Lansia Diimbau Waspada Jasa Kursi Roda Ilegal di Masjidil Haram
- Rombongan Perdana Jemaah Haji Khusus RI Tiba di Madinah, Masa Tunggu Hanya 5-6 Tahun
- KJRI Jeddah Pantau Layanan Haji di Bandara, PPIH Siap Sambut Jemaah Gelombang Kedua
Diliputi rasa penasaran, Abdullah bin al-Mubarak pun berangkat menuju Damaskus untuk mencari tahu siapa sebenarnya Muwaffaq. Ternyata, Muwaffaq adalah seorang tukang sol sepatu yang gagal berangkat haji pada tahun itu. Bertahun-tahun ia menabung demi mewujudkan niat sucinya, hingga terkumpullah uang sebanyak 300 dirham.
Namun, beberapa hari sebelum berangkat, istri Muwaffaq yang sedang hamil mencium aroma masakan yang sangat lezat dari rumah tetangga. Ngidam, ia sangat menginginkannya. Muwaffaq pun menemui tetangganya itu untuk meminta sedikit masakan tersebut. Ia adalah seorang janda miskin yang memiliki beberapa anak yatim.
Apa katanya? “Maaf, makanan ini halal untuk kami, tapi tidak halal untuk kalian. Kami tidak makan selama tiga hari. Aku menemukan bangkai keledai di jalan, lalu aku ambil sedikit dagingnya dan memasaknya. Ini halal untuk kami karena kami sangat kelaparan.”
Mendengar hal itu hati Muwaffaq remuk. Tanpa ragu, ia pulang untuk mengambil seluruh uang tabungan hajinya. Ia bergumam:
إِنَّ الحَجَّ فِيْ بَابِ دَارِيْ فَأَيْنَ أَذْهَبُ
“Ternyata ‘ibadah haji’ berada di pintu rumahku. Buat apa aku pergi jauh-jauh.”
Al-Muwaffaq segera menyerahkan seluruh tabungannya kepada janda miskin itu. Ia tidak jadi berangkat haji.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






