Tafsir Al-Hajj 15-16: Tantangan Mengulur Tali ke Langit

Tafsir Al-Hajj 15-16: Tantangan Mengulur Tali ke Langit Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Ini, dulu pernah dilakukan oleh Fir’aun, Raja Mesir yang mengaku sebagai Tuhan kelas atas dan menafikan Tuhan A.S., Allah SWT. Fir’aun menyuruh menterinya, Haman, agar membangun menara super tinggi agar bisa melihat Allah SWT.

Menara dibangun di tepian pantai dan Fir’aun naik ke puncak dengan membawa busur dan anak panah yang super tajam. Di puncak menara itu, Fir’aun mengarahkan anak panahnya ke atas dengan maksud membidik Tuhan.

Setelah melesat tinggi banget, anak panah tersebut turun kembali dan jatuh ke tanah dengan ada lumuran darah darah di bagian ujung. Fir’aun yang melihat keajaiban itu bergembira dan dengan nada congkak dia berteriak: Wahai kaumku. Lihatlah, kini, Tuhannya Musa sudah mati terkena panahku. Lalu, bedanya dengan zaman nabi apa?

Kalau pada zaman nabi, pada zaman ayat ini turun, orang kafir arab tidak satu pun ada yang melakukan atau mencoba melakukan seperti apa yang ditantangkan oleh Alqur’an. Sebab, hal itu sudah pasti tidak bisa. Akibatnya, ada yang sadar dan ada yang tetap kafir.

Sedangkan pada era Fir’aun, hal itu dilakukan dan Fir’aun mendapatkan apa yang diinginkan meskipun itu palsu. Katanya, malaikat Jibril A.S. menghadang anak panah itu dengan seekor burung. Ujung anak panah menancap mengenai burung tersebut hingga mengeluarkan darah.

Anak panah jatuh ke bawah sembari ada bekas-bekas darah di bagian ujungnya, yang oleh Fir’aun dikira mengenai bodi Tuhannya Musa, yaitu Allah SWT. Orang congkak yang tertipu oleh ulah sendiri. Itu membuatnya semakin congkak dan semakin tinggi hati. Akibatnya nanti malah semakin parah dan mengerikan.

Dengan demikian, Tuhan makin memperparah kedurhakaan Fir’aun dan tindakan kebrutalan tersebut berkonsekuensi makin parahnya siksaan atas diri Fir’aun. Begitulah, makanya, ketika Tuhan memberi kita lebih, mengabulkan cita-cita kita, maka janganlah takabbur dulu. Janganlah merasa disayang Tuhan. Jangan-jangan itu penjerumus.

Apa sih yang tidak dimiliki oleh Fir’aun. Kekuasaan tak tertandingi waktu itu, harta dan kekayaan sangat berlimpah, istana yang super mewah, kesehatan pribadi sangat prima, dan tak pernah jatuh sakit. Semua ratu kecantikan Mesir tersedia di istananya. Ya, tapi Tuhan tidak suka, lalu celaka.

Begitu halnya dengan apa yang tidak bisa kita capai. Hal itu tidak berarti Tuhan murka. Justru itu bentuk kasih sayang-Nya yang tidak kita mengerti secara baik. Bisa jadi hal demikian untuk meminimalisir beban kita kelak, siksa kita di hari akhir nanti. Tetap dan selalu berbaik sangkalah kepada Tuhan, Dzat yang maha kasih dan maha sayang.

Kemudian, pada ayat kaji berikutnya, Tuhan mengabarkan bahwa Diri-Nya telah menurunkan ayat-ayat-Nya yang sangat jelas pesannya, yakni Al-Qur’an Al-Karim. Dia pula memproklamirkan, bahwa Diri-Nya mempunyai otoritas mutlak memberi petunjuk kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. “wa ann Allah yahdi man yurid”.

Pesannya ayat ini adalah, maka umat mansuia wajib mengambil petunjuk dari Al-Qur’an tersebut agar hidup bagus di dunia dan di akhirat. Dan sebagai manusia kita tidak boleh pasrah dan “tafwidl” tanpa usaha sama sekali.

Semisal ngomong begini: “Ya sudah-lah pasrah saja, apa mau-Nya Tuhan. Mau dijadikan mukmin atau kafir”.

Ini pasti salah besar dan bisa dibuktikan. Bahkan sebodoh-bodoh orang saja mengerti ini. Silakan anda diam saja, adakah orang yang datang memberimu makan? Adakah orang yang menyuapimu makan? Orang gila dan tidak waras saja masih usaha mendapatkan makanan, meski dengan cara yang tidak lazim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO