Jelang Konfercab PCNU Kota, Jatman Kraksaan Hendaki Perubahan Struktur Baru

Jelang Konfercab PCNU Kota, Jatman Kraksaan Hendaki Perubahan Struktur Baru Mudir Jatman Kraksaan, KH. Imam Qusairi Zain. Foto: Andi Sirajudin/BANGSAONLINE

PROBOLINGGO,BANGSAONLINE.com - Munculnya sejumlah nama dan pamflet di sejumlah group-group Whatsapp jelang pelaksanaan Konfrensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan yang bakal digelar 14 September mulai memantik perhatian banyak kalangan.

Tak terkecuali, Salah satu Pengurus Jatman atau Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah Kota Kraksaan juga angkat bicara.

Mudir Jatman Kota Kraksaan, KH. Imam Qusairi Zain mengatakan, jika dirinya menghendaki pelaksanaan Konfercab PCNU Kota Kraksaan nanti tidak dikotori dengan afiliasi partai politik atau politisasi ke NU-an.

"NU bukan partai politik. Jadi, jangan campur adukan pemilihan Ketua Tanfidz dan Rois Syuriah dengan partai politik manapun. Jujur, saya menghendaki kepemimpinan PCNU Kraksaan melahirkan generasi baru atau orang baru," ujar Kiai Imam Qusairi kepada BANGSAONLINE.com, Jumat (29/8/2025) siang.

Kiai yang dikenal kritis dan penuh pemikiran tasawuf ini menegaskan, dirinya mendukung penuh adanya regenerasi kepemimpinan ditubuh PCNU Kota Kraksaan. 

Dia menyarankan, agar memberikan ruang kepada kiai muda yang energik dan suhud untuk mengisi kepengurusan PCNU Kota Kraksaan.

"Saat-nya hari ini PCNU Kota Kraksaan dijabat kiai muda yang juga selaras dengan Bupati dan Wakil Bupati yang saat ini sama-sama muda dan fresh. Mereka nantinya, diharapkan dapat sinergi dalam program nyata dalam membangun ummat khususnya Kabupaten Probolinggo," terangnya.

Tidak hanya itu, Kiai Imam Qusairi juga berharap pelaksanaan Konfercab nanti bisa digelar ditempat yang netral. 

Dia menerangkan, jika tempat yang dianggap netral dan jauh dari kepentingan politik adalah di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Imam Qusairi juga mengaku saat ini dijajaran pengurus NU ada banyak kiai muda potensial yang layak untuk dicalonkan yakni ada KH. Hafidzul Hakiem Noer atau yang biasa dipanggil Nun Hafid pimpinan Sholawat Subbanul Muslimin.

Selain itu, ada juga Hasan Assadili Pengasuh Ponpes Alassumur, Kraksaan dan juga ada KH. Hassan Ahsan Malik yang saat ini jadi Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Beliau, salah satu kiai Khos Zainul Hasan Genggong, Pajarakan.

"Beliau-beliau ini kan bisa disandingkan, misalnya Nun Hafid bisa disandingkan dengan Kiai Hassan Ahsan Malik. Nun Hafid sebagai Tanfidz-nya dan Nun Alex atau Hasan Ahsan Malik jadi Rois-nya. Ini kan perpanduan yang klop dan menarik. Bisa juga Nun Hafid dengan Gus Hasan Assadili, ini kan juga perpanduan antara Genggong dan Nurul Jadid. Karena, Nun Hafidz kan afiliasinya ke Genggong dan Hasan Assadili merupakan keluarga besar Nurul Jadid. Nah, juga cukup bagus," sarannya dengan mimik serius.

Secara terpisah, Salah satu aktifis NU lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir, dari Ponpes Sirojul Ummah Desa Kertosono, Kecamatan Gading Gus H. Adib Ali Rahbini mengatakan, jika dirinya berharap agar PCNU Kota Kraksaan nantinya dapat melahirkan pemimpin yang baru dan tak terafiliasi dengan partai politik manapun.

"Seyogyanya, NU adalah rumah besar dan perlu kita rawat bersama. Dan berharap PCNU tidak menjadi kelompok manapun. Karenanya, kita perlu adanya regenerasi kepemimpinan," ujar Gus Adip.

"Kami bukan pemilik suara. Tapi kami memiliki panggilan nurani dan punya aspirasi, agar peserta Konfercab tidak melupakan nilai sejarah panjang PCNU. Apalagi, muassis (pendiri) PCNU yaitu kiai Hasan sepuh Genggong pernah memberi nasehat, "Barang siapa yang ikhlas berjuang untuk Nahdlatul Ulama, maka dia akan beruntung dunia Akhirat," tandasnya.

Karenanya, Gus H Adib berharap ada perubahan struktural PCNU Kota Kraksaan untuk periode ke depan.

"PCNU harus berubah secara fundamental. Agar menjadi rumah besar, bagi seluruh lapisan warga NU. Selama ini, PCNU hanya dikuasai kelompok tertentu," tandasnya. (ndi/van)