Perwakilan UNICEF foto bersama jajaran Pemkab Pamekasan usai rapat koordinasi dan audiensi penanggulangan kasus campak di Ruang Peringgitan Dalam Pendopo Kabupaten Pamekasan.
"Harapannya, melalui imunisasi tambahan ini dan dukungan lintas sektor, kita bisa menekan peningkatan kasus campak dan mencegah terjadinya kematian," tegas Saifudin.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur menilai langkah surveilans aktif yang dilakukan jajaran kesehatan di Kabupaten Pamekasan menjadi kinerja baik dalam upaya pengendalian kasus campak.
Melalui pemantauan dan pelaporan berjenjang, kasus dapat terdeteksi lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan segera.
"Kalau kita belajar dari pengalaman Covid-19, ketika pemantauan dilakukan terus-menerus, kasus bisa tercatat dan dilaporkan dengan baik. Itu yang sudah dijalankan di Pamekasan, dan patut diapresiasi," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jatim, Drg. Sulvy Angraeni, M.Kes.
Ia menjelaskan, pelaporan dari Puskesmas, tinjauan rumah sakit, hingga surveilans berbasis masyarakat menjadi instrumen penting dalam mengendalikan penyebaran penyakit.
"Peran masyarakat juga sangat bermakna, sekecil apa pun laporan dari tetangga atau keluarga bisa membantu mempercepat deteksi," tambahnya.
Namun, Dinkes Jatim juga menyoroti lemahnya kekebalan tubuh anak akibat imunisasi yang tidak lengkap dan masalah gizi. Dari 5 kasus kematian akibat campak di Pamekasan, 4 anak diketahui belum pernah diimunisasi, sementara satu anak belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi karena baru berusia delapan bulan.
"Masalah gizi memperburuk kondisi. Anak yang mengalami malnutrisi memiliki daya tahan tubuh rendah, sehingga lebih rentan terhadap campak," jelas Sulvy.
Ditambahkan, campak adalah penyakit dengan tingkat penularan tinggi. Satu kasus dapat menularkan ke 12 hingga 18 orang melalui droplet seperti batuk atau bersin. Kebiasaan masyarakat yang gemar berkumpul dinilai memperbesar peluang penularan.
"Karena itu, penguatan imunisasi dan surveilans aktif harus terus ditingkatkan, agar kita bisa menekan angka kasus dan mencegah kematian," tegasnya.
Dukungan UNICEF
Health Specialist UNICEF Indonesia, Dr. Armunanto, MPH, menegaskan peningkatan kasus campak di sejumlah daerah, termasuk Pamekasan, tidak bisa ditangani hanya oleh jajaran Dinas Kesehatan.
Menurutnya, diperlukan keterlibatan lintas sektor untuk menekan laju penularan dan mencegah kematian anak.
"Masalah kesehatan masyarakat, termasuk campak, harus kita hadapi bersama. Tidak mungkin hanya diselesaikan oleh Dinas Kesehatan," ujarnya.

Armunanto menjelaskan, peningkatan kasus campak saat ini bukan hanya terjadi di Madura, tetapi juga di beberapa provinsi lain. Di antara kabupaten di Madura, Sumenep tercatat sebagai wilayah dengan kasus terbanyak.
Ia menilai kondisi tersebut sudah diprediksi sebelumnya, mengingat pandemi Covid-19 sempat mengganggu layanan kesehatan secara luas.
"Akibat layanan yang terganggu saat pandemi, kini kita menghadapi kejadian luar biasa campak secara serentak di Indonesia," katanya.
UNICEF bersama pemerintah daerah berkomitmen mendukung langkah-langkah penanggulangan campak di Pamekasan.
"Dengan ikhtiar bersama, insya Allah kita bisa mengatasi situasi ini. Anak-anak yang seharusnya sehat tidak boleh jatuh sakit, apalagi sampai meninggal," pungkasnya. (bel/dim/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




