Ekonomi Pamekasan Tumbuh 5,47 Persen, Bupati Ungkap Sinyal Positif atas Hal ini

Ekonomi Pamekasan Tumbuh 5,47 Persen, Bupati Ungkap Sinyal Positif atas Hal ini Rapat Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 dalam rapat paripurna di Pendopo Ronggosukowati, Selasa (31/3/2026).

PAMEKASAN,BANGSAONLINE.com - Kabupaten Pamekasan mencatat pertumbuhan ekonomi 5,47 persen pada 2025 disertai penurunan angka kemiskinan menjadi 12,77 persen, meski masih menghadapi tantangan ketimpangan dan risiko bencana.

Hal itu disampaikan Bupati Kholilurrahman saat memaparkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 dalam rapat paripurna di Pendopo Ronggosukowati, Selasa (31/3/2026).

Dalam laporannya, Kholilurrahman menyebut pertumbuhan ekonomi tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas masyarakat serta membaiknya iklim usaha di daerah.

“Ini menjadi indikator bahwa roda perekonomian kita bergerak ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, persentase penduduk miskin tercatat 12,77 persen, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, yang menandakan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Meski begitu, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat pemerintah lengah. Upaya lanjutan tetap diperlukan untuk memperluas lapangan kerja dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi secara merata.

“Kita harus memastikan akses terhadap pendidikan, kesehatan, perumahan, dan sanitasi semakin luas dan berkualitas,” tegasnya.

Di sisi lain, ketimpangan pendapatan masih menjadi perhatian dengan gini rasio sebesar 0,337. Meski tergolong rendah, kondisi ini dinilai berpotensi meningkat jika tidak diantisipasi sejak dini.

“Pembangunan harus inklusif. Semua lapisan masyarakat harus merasakan manfaatnya,” tuturnya.

Capaian positif juga terlihat dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 71,64, menunjukkan kualitas hidup masyarakat yang terus membaik di berbagai sektor.

Meski demikian, tantangan muncul dari meningkatnya risiko bencana. Indeks Risiko Bencana Pamekasan pada 2025 tercatat di angka 86,50 yang menunjukkan tingkat kerentanan wilayah semakin tinggi.

“Kesiapsiagaan dan mitigasi harus diperkuat agar pembangunan tidak terganggu dan masyarakat tetap terlindungi,” pungkasnya. (bel/dim/van)