Gambar monumen ayam jago yang berdiri kokoh
"Ini termasuk simbol perjuangan Raden Sawunggaling yang pernah membabat alas Suroboyo. Karena saat itu, Sawunggaling dengan ayamnya datang Kedaton tempat ayahnya memerintah. Ayam Jago juga adalah simbol bentuk kekuatan besar," terang Andi.
Selain itu, lanjut Andi, tugu setinggi 7 meter itu, sebagai simbol kesejahteraan warga Lidah yang dulunya bernama Lidah Donowati. Tempat di mana Raden Sawunggaling atau disebut Joko Berek tinggal bersama ibunya Dewi Sangkrah. "Tentunya sebagai petunjuk, bahwa pengendara masuk area Lidah Donowati tempat Raden Joko Berek dilahirkan," pungkasnya.
Diketahui, Raden Sawunggaling atau Joko Berek adalah nama populer di Jawa Timur. Joko Berek dipercaya warga sekitar sebagai sosok yang membabat alas (membersihkan hutan) di Kota Surabaya pada saat itu.
Joko Berek memiliki hobi merawat dan adu ayam jago. Singkat cerita, Joko Berek yang saat itu tinggal bersama ibunya, Biyung Dewi Sangkrah, mencari keberadaan ayahnya. Dewi Sangkrah lalu menjawab, ayahnya adalah seorang Adipati bernama Jayengrono.
Ia pun mencari keberadaan ayahnya di Kedaton Surabaya sambil membawa ayamnya. Setelah tiba di Kadipaten Surabaya, Joko Berek lalu bertemu dengan dua saudara tirinya, Sawungrana dan Sawungsari.
Sawungrana dan Sawungsari mempertanyakan maksud kedatangan Joko Berek ke Kadipaten Surabaya. Joko Berek mengaku sebagai anak Adipati Jayengrono, tapi mereka tidak percaya hingga menantangnya untuk bertarung ayam jago dan memanah.(rjb)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




