Bupati Kediri Hanindito Himawan Pramana (kanan) dan Direktur PT Surya Dhoho Investama (SDHI), Maksim Arisandi saat mendampingi Menteri Haji dan Umroh, Gus Irfan (bertopi) melakukan pengecekan kondisi Bandara Dhoho Kediri dan runway-nya. Foto: Muji Harjita/BANGSAONLINE
“Tapi karena masih ada masalah nonteknis yang harus diselesaikan, waktu itu kami belum bisa memutuskan Dhoho sebagai Bandara Embarkasi. Maka dari itu, pada 2026 Bandara Dhoho belum bisa dipakai. Insyaallah pada 2027, pemberangkatan maupun pemulangan jamaah haji bisa menggunakan Bandara Dhoho. Untuk umrah, saya kira secara teknis bisa digunakan,” ujar Gus Irfan.
Sementara itu, Direktur PT SDHI Maksim Arisandi mengatakan pihaknya telah mengundang maskapai asing dalam pertemuan di Bandara Dhoho untuk mempersiapkan layanan penerbangan internasional.
Menurutnya, dari 34 maskapai asing yang diundang, 28 hadir, termasuk Saudia Airlines, Singapore Airlines, Nippon Airways, dan Malaysia Airlines.
“Kami melihat dengan lebih dari 80 persen yang hadir, itu menunjukkan maskapai asing tertarik berbisnis di DHX (Bandara Dhoho),” ujarnya.
Maksim juga menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri Haji dan Umrah RI ke Bandara Dhoho.
“Kami memahami keputusan Pak Menteri yang belum menetapkan Bandara Dhoho Kediri sebagai Embarkasi Haji 2026 meskipun secara teknis sudah siap. Kami meyakini pada 2027 penerbangan haji sudah bisa terlaksana di Kediri. PR besarnya adalah menyiapkan asrama haji,” katanya.
Ia menambahkan, untuk penerbangan umrah, tidak diperlukan asrama sehingga dapat dilaksanakan lebih cepat.
Menurutnya, jika maskapai dan penyelenggara perjalanan umrah siap, penerbangan langsung Kediri–Jeddah berpotensi dimulai pada Januari atau Februari 2026. (uji/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




