Salah satu kawasan brantas yang tercemar. foto: wartakesehatan
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Beberapa industri di sepanjang Kali Brantas dan Kali Surabaya, terus berlomba mencemari Kali Surabaya dengan limbah yang mereka hasilkan.
Bahkan di antaranya, sudah melebihi baku mutu yang sudah ditentukan pemerintah, khususnya selama bulan Oktober-November 2015 yang diketahui sebagai puncak musim kemarau, di mana suhu udara mencapai 40-41 derajat Celcius.
BACA JUGA:
- Peringati WCD 2025, Wali Kota dan Wawali Kediri Tuangkan Eco Enzym di Sungai Brantas
- Cari Remaja Hilang di Sungai Brantas, Tim SAR Kerahkan 35 Personel
- Remaja Terseret Arus Sungai Brantas di Blitar, Tim SAR Gabungan Bersiap di Posko Pencarian
- Polres Gresik Terjunkan Tim Pencari Perempuan yang Diduga Bunuh Diri di Sungai Brantas
Kondisi itu menyebabkan tingginya suhu air dan tingginya reaksi kimia dalam air yang mengurangi kadar oksigen dalam air. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya debit air Kali Brantas sampai 60% dari normal.
"Seharusnya pembuangan limbah ke Kali Brantas menyesuaikan dengan efisiensi pemanfaatan air dan pengolahan limbah yang sesuai dengan standar baku mutu," ujar Heri Purnomo Tim Peneliti Ecoton yang melakukan pemantauan industri di sepanjang Kali Surabaya, Jumat (06/11/2015).
Menurut Heri, sampai sekarang beberapa industri di Kali Brantas membuang limbah cair dengan karakter air berbau, pekat dan berbusa. Satu di antara parameter yang diukur Total Dissolved Solid (TDS) atau Padatan Tersuspensi Dalam Air, standar baku mutu tidak boleh lebih dari 500 mg/L.
Hanya saja, dari 4 industri yang dipantau Ecoton dan TELAPAK Jatim menunjukkan, keempatnya di atas baku mutu. Bahkan ada industri penyedap masakan di Jombang yang membuang limbah dengan baku mutu di atas 2000 mg/L.
"Alat pantau kami langsung menunjukkan angka ribuan dan tak terhitung lagi karena alat TDS kami hanya mampu mengukur sampai 2000 mg/L, sesudah kita ukur limbah cair pabrik penyedap makanan di Jombang ini melebihi baku mutu," jelas Heri Purnomo.






