KH Miftakhul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat berangkulan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, Kamis (25/12/2025). Foto: Bernas
SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali heboh. Kali ini KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) - yang telah diberhentikan oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar - dituding mencatut nama Rais Aam KH Miftachul Akhyar tanpa izin yang bersangkutan untuk surat undangan Puncak Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-100 Masehi.
Dalam surat undangan Harlah yang beredar, acara itu akan digelar oleh kubu Gus Yahya pada Sabtu, tanggal 12 Sya’ban 1447 Hijriyah atau 31 Januari 2026. Acara itu akan digelar oleh kubu Gus Yahya di Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Surat undangan itu tertanda (ttd) KH Miftachul Akhyar selaku Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf selaku Ketua Umum.
Surat undangan ini langsung memantik reaksi keras kubu Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Informasi yang diterima BANGSAONLINE menyebutkan bahwa Gus Yahya belum pernah mendapat izin dari Kiai Miftachul Akhyar selaku Rais Aam PBNU.

Bahkan BANGSAONLINE juga mendapatkan screenshot pesan WhatsApp (WA) dari HP Kiai Miftachul Akhyar yang intinya menyesalkan tindakan Gus Yahya yang dianggap telah mengabaikan keberadaan Syuriah sebagai lembaga tertinggi NU. Secreenshot itu juga menjelaskan tentang kronologis masalah tersebut.
“Waktu GY (Gus Yahya-Red) menyodorkan surat undangan untuk Presiden dalam draf yang hanya ditandatangani saya dan GY, saya jawab: undangan harus ditandatangani berempat,” tulis Kiai Miftachul Akhyar dalam WA yang screenshotnya beredar di media sosial.
“Pertimbangan saya, Undangan ke Presiden harus ditandatangani berempat, agar Presiden tahu kalau PBNU sudah rukun. Kalau hanya berdua, Presiden akan menganggap kita belum satu/rukun. Untuk itu, tentu ada prosedur organisasi yang harus dijalankan,” tulis Kiai Miftachul Akhyar lagi.
“Sebelumnya, saya merasa tidak dihubungi terkait adanya undangan Harlah Satu Abad NU Masehi. Saya baru buka WA GY hari ini sekitar jam 12.00 tadi, setelah banyak pertanyaan soal undangan ini,” tulis Kiai Miftachul Akhyar panjang lebar.
“Ternyata memang ada WA GY yang minta izin pencantuman nama saya dalam undangan. Padahal yang saya nantikan adalah jawaban GY dari surat “permohonan maaf” yang saya harap bisa menutup “kegaduhan” secara menyeluruh,” tulis Kiai Miftachul Akhyar.
Dalam WA tersebut Kiai Miftachul Akhyar mengakhiri dengan kalimat: “Jadi, penyebutan nama saya dalam undangan ini adalah penyalahgunaan,” tegas Kiai Miftachul Akhyar.
“Tanfidziyah sudah tidak mengindahkan dan tidak menganggap Syuriah, Ini bisa memicu kegaduhan baru,” tulis Kiai Miftachul Akyhyar sembari mengatakan bahwa masalah Harlah masih bisa dilaksanakan selain/sesudah tanggal 31 Januari.
“Yang penting tertib administrasi dan organisasi,” tulis Kiai Miftachul Akhyar.
Untuk memastikan apakah pesan WA itu berasal dari HP Kiai Miftachul Akhyar, BANGSAONLINE menghubungi KH Imron Rosyadi Hamid, Ph.D, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU. Alumnus Jilin University Tiongkok bidang Hubungan Internasional itu membenarkan bahwa sreenshot itu berasal dari WA Kiai Miftachul Akhyar.
“Benar,” tegas Gus Imron Rosyadi – panggilan akrab Rektor Universitas Raden Rahmat Malang itu, Selasa (27/1/2025) hari ini.
Gus Imron juga mengirim rilis Katib PBNU KH Ahmad Tajul Mufakhir (Gus Tajul) yang menegaskan bahwa pencantuman nama Rais Aam PBNU KH Miftakhul Akhyar itu tanpa seizin Kiai Miftahul Akhyar.
“Menyikapi beredarnya undangan Peringatan Harlah NU ke-100 Masehi yang mencantumkan nama Rais Aam, melalui washilah postingan ini, dan atas seizin beliau, saya perlu menyampaikan klarifikasi bahwa agenda tersebut *belum mendapatkan persetujuan dari Rais Aam*,” tulis Gur Tajul.
Menurut dia, saat sowan kepada Rais Aam hari Senin, 12/01/26 lalu, Gus Yahya memang menyampaikan rencana kegiatan tersebut.
“Tapi saat itu Rais Aam memberikan arahan yang jelas agar digelar Rapat Pleno terlebih dahulu. Hingga saat ini, arahan tersebut belum ditindaklanjuti karena Gus Yahya justru mengusulkan agar digelar RaGab dulu,” tegas Gus Taju lagi.
”Dengan demikian, pencantuman nama Rais Aam dalam undangan yang beredar adalah tidak benar dan itu dilakukan tanpa seizin beliau,” tegas Gus Tajul lagi.
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Kiai Miftakhul Akhyar dan Gus Yahya sempat berangkulan saat dimediasi ishlah di Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur pada Kamis, 25 Desember 2025. Namun rangkulan di depan para kiai dan sebagian Mustasyar PBNU itu ternyata hanya formalitas. Faktanya semua poin yang tercantum dalam mediasi ishlah terebut tak ada yang terealiasi. Hubungan Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Yahya tetap tegang dan berjalan sendiri-sendiri hingga sekarang.






