Lia Istifhama, Anggota DPD RI.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Menjelang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Imlek dan Ramadan, kepastian mengenai ketersediaan pangan menjadi prioritas utama. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, memastikan bahwa stok beras nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat aman dan terkendali.
Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia ini menegaskan bahwa ketahanan pangan Indonesia tengah berada di titik puncaknya. Menurutnya, cadangan beras saat ini merupakan yang terkuat dalam catatan sejarah pengelolaan pangan tanah air.
"Dengan capaian stok yang signifikan, pemerintah dinilai memiliki ruang yang cukup untuk menjaga pasokan sekaligus menstabilkan harga di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat," tutur Ning Lia, Jumat (30/1/2026).
Ia memaparkan bahwa saat ini stok beras nasional telah menyentuh angka sekitar 3,3 juta ton. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan jaminan bahwa negara memiliki "peluru" yang cukup untuk menghadapi lonjakan permintaan yang kerap terjadi di hari besar keagamaan.
Optimisme ini didasari pada kemampuan negara dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Ning Lia menekankan bahwa cadangan yang melimpah adalah instrumen krusial untuk melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan, dari ancaman kenaikan harga bahan pokok.
Sebagai komoditas strategis, beras memiliki korelasi langsung dengan stabilitas ekonomi makro. Fluktuasi harga tidak hanya memicu inflasi, tetapi juga memukul daya beli masyarakat luas. Oleh karena itu, dengan cadangan yang solid, pemerintah memiliki daya intervensi pasar yang jauh lebih efektif jika terjadi tekanan harga di lapangan.
Ning Lia turut memberikan apresiasi atas langkah antisipatif pemerintah dalam mengawal rantai pasok pangan dari hulu ke hilir. Ia berharap konsistensi ini terus terjaga sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil.
Melalui pengawasan ketat dan stok yang memadai, masyarakat diimbau untuk menyambut Imlek dan Ramadan dengan tenang tanpa perlu mengkhawatirkan kelangkaan maupun lonjakan harga beras yang ekstrem.






