SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) sekaligus pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak umat Islam untuk menjadikan bulan Sya’ban sebagai ruang refleksi dan persiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Menurutnya, kesiapan batin dan amal sejak dini akan menentukan kualitas ibadah selama Ramadhan berlangsung.
Pengurus MUI Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan bahwa Sya’ban bukan sekadar bulan penghubung antara Rajab dan Ramadhan, melainkan fase krusial dalam perjalanan spiritual umat Islam. Ia mengibaratkan proses ibadah layaknya siklus bertani yang memerlukan tahapan dan kesungguhan.
Dalam penjelasannya, Ning Lia menggambarkan bahwa bulan Rajab merupakan masa menanam benih amal, sementara Sya’ban adalah waktu merawat, menyiram, dan menjaga tanaman tersebut. Ramadhan disebutnya menjadi masa panen dari seluruh usaha spiritual yang telah dipersiapkan sebelumnya.
"Analogi ini, menurutnya, mengajarkan pentingnya konsistensi dan kesiapan agar ibadah Ramadhan dapat dijalani secara maksimal," tutur Ning Lia, pada Selasa (02/02).
Ning Lia mendorong umat Islam untuk mengisi bulan Sya’ban dengan berbagai amalan positif sebagai bentuk persiapan menyeluruh. Ia menyampaikan bahwa memperbanyak puasa sunnah, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat amal saleh menjadi langkah konkret dalam menyambut Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan tenang.
Ia menuturkan bahwa kesiapan spiritual tidak hadir secara tiba-tiba ketika Ramadhan datang. Oleh karena itu, Sya’ban menjadi kesempatan berharga untuk melatih diri, membangun kebiasaan baik, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia agar Ramadhan dapat dijalani dengan penuh makna.
Lebih lanjut, Ning Lia juga mengingatkan tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban yang dikenal sebagai malam penuh keberkahan dan introspeksi. Pada malam tersebut, umat Islam diajak untuk merenungi perjalanan hidup dan amal yang telah dilakukan selama setahun terakhir.
Ia menjelaskan bahwa Nisfu Sya’ban dimaknai sebagai momentum pergantian catatan amal manusia. Catatan amal selama satu tahun ditutup, lalu digantikan dengan catatan baru untuk tahun berikutnya.
Makna ini, menurut Ning Lia, seharusnya mendorong setiap Muslim untuk melakukan evaluasi diri, memperbanyak doa, serta memperkuat niat agar kehidupan ke depan dapat dijalani dengan lebih baik dan lebih bermakna.






