Tetap Humble di Level Nasional, Senator Ning Lia Buktikan Idealisme PMII Tak Lekang oleh Jabatan

Tetap Humble di Level Nasional, Senator Ning Lia Buktikan Idealisme PMII Tak Lekang oleh Jabatan Lia Istifhama, Anggota DPD RI.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Nama Dr. Lia Istifhama kian mengukuhkan posisinya sebagai salah satu senator paling berpengaruh dari Jawa Timur. Meraih gelar Doktoral dari UINSA, perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini berhasil menunjukkan wajah politikus perempuan yang kompleks: anggun dalam bersikap, namun tetap tajam dan tegas dalam menyampaikan gagasan kritis di panggung politik nasional.

Karakter kuat putri tokoh NU, almarhum KH Masykur Hasyim ini, rupanya berakar dari tempaan masa kuliahnya sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia mengaku, idealisme dan jiwa progresifnya terbentuk dari dinamika luar biasa saat ia bergabung di komisariat yang ia sebut sebagai "legenda".

“Saya memiliki jiwa PMII secara kuat karena tempaan dinamika super unik dalam PMII SS, alias PMII Surabaya Selatan. Simbol PMII yang sangat fenomenal, bahkan terfenomenal atau paling melegenda hingga saat ini. PMII SS identik dengan IAIN Sunan Ampel Surabaya waktu itu. Isinya mahasiswa yang memiliki kemampuan retorika luar biasa, kepercayaan diri yang sangat tinggi, dan pola komunikasi yang sangat piawai. Maka dari itu, salam pergerakan PMII harus dijiwai sebagai stimulus membentuk pribadi progresif,” ujar Ning Lia dalam sebuah forum Sekolah Kader Kopri (SKK) PMII.

Senator dengan tagline "Peran Cantik" (Cerdas, Inovatif, Kreatif) ini dikenal sangat rajin menjaga silaturahmi dengan para juniornya. M. Arif, salah satu alumni PMII asal Lumajang, mengakui bahwa keaktifan keponakan Khofifah Indar Parawansa ini bukanlah pencitraan sesaat setelah menjabat di DPD RI.

“Kalau kita melihat intensitas penyapaan, memang Ning Lia ini bisa dikatakan paling aktif mengisi forum adik-adik PMII, termasuk Kopri PMII. Dan saya kira banyak pihak mengakui hal ini, karena memang keaktifan tersebut bukan saat ia sudah menjadi politikus nasional, melainkan ketika belum menjadi anggota DPD RI pun, ia sudah sering mengisi seminar-seminar yang diadakan kader-kader PMII saat ini,” ungkap Arif, Sabtu (21/2/2026).

Popularitas Ning Lia di kalangan aktivis Jawa Timur memang bukan hal baru. Junaidi, alumni PMII asal Madura, mengenang masa kuliah Ning Lia sebagai sosok yang sangat populer. Sambil berseloroh, ia menyebut Ning Lia sebagai standar pergaulan aktivis kala itu.

“Pada zaman ia masih kuliah, siapa yang tidak kenal dia? Se-Jawa Timur kenal dia. Siapa yang saat itu sebagai aktivis PMII, jika tidak kenal Ning Lia, maka kurang ngopi,” kenangnya sembari canda gurau.

Bagi para kader aktif seperti Muzammil asal Surabaya, eksistensi Ning Lia di level nasional memberikan suntikan energi positif. Ning Lia dianggap sebagai mentor yang tidak hanya hadir dalam acara seremonial, tetapi juga terlibat aktif dalam memecahkan kendala yang dihadapi kader di lapangan.

“Beliau tidak hanya datang saat acara seremonial. Ning Lia sering berdialog langsung, memberi masukan, bahkan membantu mencarikan solusi ketika kader menghadapi kendala. Beliau tetap sederhana dan terbuka. Itu yang membuat kader merasa dekat,” tutur Muzammil.

Keberhasilan Dr. Lia Istifhama di kancah politik nasional menjadi potret nyata bahwa nilai-nilai "Salam Pergerakan" mampu menuntun kadernya menuju kursi senator tanpa harus kehilangan jati diri dan semangat pengabdian kepada masyarakat.