Kapolda Jatim saat memberi pemaparan di Seminar Nasional.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Polda Jatim menggelar Seminar Nasional bertema 'Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata Menghapus Kekerasan Seksual Berbasis Relasi Kuasa', Senin (27/4/2026). Forum ini menjadi wadah strategis memperkuat sinergi lintas sektor dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, khususnya akibat penyalahgunaan kekuasaan.
Kapolda Jatim, Irjen Pol Nanang Avianto, menegaskan bahwa Jawa Timur menjadi panggung penting gerakan kemanusiaan nasional dalam perlindungan kelompok rentan dan pemberantasan kekerasan berbasis gender.
“Dunia saat ini menuntut institusi keamanan untuk tidak hanya mahir dalam pengejaran fisik pelaku kejahatan, tetapi juga cerdas dan empatik dalam memahami trauma korban,” ujarnya.
Sepanjang Januari-April 2026, Direktorat Reserse Pelayanan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang Polda Jatim telah menangani 97 laporan polisi, dengan 30 perkara diselesaikan tuntas.
“Di balik setiap angka itu ada nyawa, ada martabat, dan ada masa depan yang sedang kita perjuangkan,” kata Kapolda Jatim.
Ia menegaskan tidak ada toleransi terhadap pihak yang menyalahgunakan kewenangan. Sejumlah kasus menonjol berhasil diungkap, termasuk kekerasan seksual terhadap atlet nasional, perlindungan kelompok rentan, pemulangan pekerja migran dari Timur Tengah, hingga pembongkaran sindikat pornografi online anak di bawah umur.
Sebagai komitmen, Polda Jatim menjalankan 2 inovasi fundamental. Pertama, sistem penanganan terpadu dengan koordinasi bersama DP3AK, Dinas Sosial, lembaga perlindungan perempuan dan anak, serta komunitas difabel.
Lalu, inovasi preventif melalui pendidikan dengan modul khusus bagi guru untuk mendeteksi dini bullying, kekerasan seksual, dan bahaya pornografi di sekolah.
“Guru adalah kader terdepan kita. Jika guru kuat, maka benteng perlindungan anak-anak kita akan kokoh,” ucap Kapolda Jatim.
Ia pun mengajak tokoh pemuda, akademisi, psikolog, hingga komunitas sosial memperkuat semangat gotong royong dalam perlindungan masyarakat.
“Keamanan sejati adalah ketika kelompok yang paling lemah sekalipun merasa aman di tengah masyarakat. Mari kita wujudkan Jawa Timur yang zero tolerance terhadap kekerasan seksual,” pungkasnya. (rus/mar)





