PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Masuk AHWA

PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Masuk AHWA Para rais dan ketua PWNU dan 23 PCNU foto bersama dengan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim di Karangampel Indramayu, Sabtu (9/5/2026). foto: MMA/bangsaonline.com

Bahkan Kiai Asep tiap tahun memberikan 600 beasiswa kepada kader-kader NU seluruh Indonesia lewat Pergunu.

“Kalau empat tahun berarti sekitar 2.400 beasiswa. Mungkin karena itu oleh Pak Mas’ud Adnan saya disebut sebagai Kiai Miliarder Tapi Dermawan,” ujar Kiai Asep yang kini memiliki sekitar 14.000 santri sembari mengatakan b beasiswa itu untuk S1, S2 dan S3 di Universitas KH Abdul Chalim. Mereka gratis tempat tinggal, bebas uang pangkal, dan bahkan dapat makan.

Kiai Asep bercerita, b abahnya, KH Abdul Chalim pada 1914 belajar di Makkah bersama KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Asnawi Kudus. Mereka ini semua dikenal sebagai ulama pendiri NU.

Menurut Kiai Asep, saat Kiai Wahab berinisiatif mendirikan NU tak serta merta mendapat restu dari Hadratusyaikh KH Muhammad Haasyim Asy’ari. Butuh waktu 10 tahun restu dari Hadratussyaikh. Kiai Wahab harus bersabar. Karena tanpa restu Hadratussyaikh, Kiai Wahab tak mungkin mendirikan NU. Apalagi Kiai Wahab mendirikan NU agar dipimpin oleh Hadratussyaikh.

Saat proses penantian restu itulah Kiai Abdul Chalim berperan sebagai mediator antara Kiai Abdul Chalim dan Hadratussyaikh. Karena itu ketika NU berdiri, Hadratussyaikh menjadi Rais Akbar, Wakilnya KH Ahmad Dahlan Ahyad. Sedangkan Katib Awal KH Abd Wahab Hasbullah dan Katib Tsani KH Abdul Chalim.

Menurut Kiai Asep, NU didirikan untuk mengembangkan dan mendominasikan ajaran Ahlussunnah Wal Jemaah (Aswaja) sekaligus untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pada tahun 50-an KH Zainal Muttaqin Ciparai Jawa Barat, seorang anggota DPR GR dari NU, mengumpulkan para pendiri Nahdlatul Ulama. Dalam kesempatan itu Kiai Abdul Wahab mengatakan b dari semua muassis atau pendiri Nahdlatul Ulama hanya Kiai Abdul Chalim yang belum punya pesantren.

“Sepontan, beliau (Kiai Abdul Chalim) mengatakan nanti anak saya yang akan punya pesantren besar,” ujar Kiai Asep.

Karena itu, ujar Kiai Asep, ketika ada orang bertanya siapa pendiri Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang sekarang banyak menjadi rujukan pendidikan nasional.

“Saya selalu mengatakan pendirinya abah saya, bukan saya,” ujar Kiai Asep yang kini memperjuangkan KH M Yusuf Hasyim Tebuireng dan KH Abbas Abdul Jamil sebagai pahlawan nasional. KH Abdul Chalim telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 Agustus 2023 oleh presiden.

Karena, tegas Kiai Asep, secara logika sangat tidak masuk akal. Baik saudara-saudara Kiai Asep maupun Kiai Asep sendiri saat itu tak ada potensi sebagai pendiri pesantren. Apalagi Kiai Asep sendiri secara ekonomi sangat miskin. Bahkan pernah menjadi kuli bangunan.

“Tapi itulah barangkali karomahnya seorang ulama,” ujarnya.

Selain memiliki Universitas KH Abdul Chalim yang sudah membuka program S3, Kiai Asep juga mengasuh empat pesantren. Yaitu Pesantren Amanatul Ummah di Jalan Siwalankerto Surabaya dan Pesantren Amanatul Ummah di Pacet Mojokerto, Jawa Timur.

Kiai Asep juga mengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah 02 di Leuwimunding Majalengka Jawa Barat, dan Pesantren Amanatul Ummah di Kampung NU Humbang Raya Mentangai Kapuas Kalimantan Tengah. Pesantren yang terakhir ini baru dirintis dan berdiri di tengah hutan.

“Santri Kiai Asep tersebar di semua perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia seperti ITB, UI, ITS, IPB, Unhan, UGM, UIN, Unair, dan juga di berbagai perguruan tinggi luar negeri seperti di Mesir, Amerika, Australia, China, Maroko, Tunisia, Singapura, Malaysia, “ ujar Mas’ud Adnan saat menyampaikan paparan buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan sembari mengatakan b pada tahun ajaran 2025 sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah lolos perguruan tinggi negeri dan luar negeri.

Sementara Prof Dr KH Usep Abdul Matin mengelaborasi NU lewat buku Muqaddimah Ibnu Khaldun. Menurut guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu ada empat tahapan peradaban versi Ibnu Kholdun. Yaitu lahir, tumbuh, jaya, dan runtuh.

Lalu NU berada dalam tahapan mana? Menurut Prof Usep, NU sudah lahir, tumbuh, dan jaya.

Bahkan, tutur Prof Usep, kader NU sudah pernah menjadi presiden RI. “Yaitu Kiai Abdurrahman Wahid,” ujar lulusan Leiden University Belanda itu.

Selain presiden, kata Prof Usep, kader NU juga pernah menjadi Wakil Presiden RI. Bahkan dua orang, yaitu KH Makruf Amin dan Hamzah Haz.

“Organisasi lain belum ada,” ujar Prof Usep yang juga lulusan Duke University (Fulbright) dan S3 dari Monash University.

Prof Usep juga menjelaskan tentang kiprah Kiai Abdul Chalim dalam NU. Menurut dia, Kiai Abdul Chalim aktif di Syarikat Islam sejak usia 16 tahun.

“Anggota termuda. Jadi betul-betul aktivis,” ujarnya.

Menurut Prof Usep, ketika KH Abdul Wahab memanggil untuk menggantikan Kiai Mas Manshur, Kiai Abdul Chalim berjalan kaki dari Leuwimunding Majalengka ke Surabaya.

“Dan itu dipuji oleh Kiai Wahab Hasbullah, inilah pemuda luar biasa,” ujar Prof Usep menirukan ungkapan Kiai Wahab Hasbullah.

“Karena itu kalau bapak ibu mau napak tilas, silakan berjalan kaki dari makamnya, dari Luewimunding ke Surabaya. Katanya pernah dicoba oleh banser, tapi tak kuat lalu naik bus,” ujar Prof Usep yang disambut tawa para kiai.

Acara silaturahim itu ditutup doa yang dipimpin Rais Syuriah Bandung Drs. KH. Khoiruddin Aly, M.Pd.I. Para kiai PWNU dan PCNU itu lalu foto bersama dengan Kiai Asep Saifuddin Chalim. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO