Oleh: Gus Bahar, Pesantren Salfiyah Seblak
Kita hari ini sedang hidup dalam sebuah “sirkus” visual yang megah namun memuakkan. Setiap kali musim peralihan kekuasaan tiba, kita disuguhi parade “pemimpin kertas basah”—mereka yang tampak kokoh dan mengilap di permukaan baliho, namun langsung hancur lebur ketika diterpa rintik hujan realitas sosial.
Demokrasi prosedural telah bergeser menjadi industri kosmetik politik. Tersajikan dengan retorika manis yang diramu oleh konsultan citra, sementara di balik layar, kekuasaan dijalankan dengan syahwat menimbun kekayaan personal tanpa pondasi berpikir yang jelas. Efek domino dari kenaifan kolektif ini adalah frustrasi massal. Kita mengeluh tentang pajak yang dikorupsi, hukum yang tebang pilih, dan kebijakan yang mencekik leher rakyat kecil. Namun, mari kita jujur pada cermin sejarah: bukankah semua penderitaan ini adalah buah dari kecerobohan kita sendiri dalam memilih?
Sejarah bukanlah garis lurus yang acak; ia adalah lingkaran spiral yang berulang. Untuk memahami kekacauan hari ini, kita harus mundur ribuan tahun ke belakang, membaca ulang lembaran sejarah Bani Israil pasca-era Nabi Musa, saat mereka terjebak dalam belenggu kegelapan di bawah tirani Raja Jalut (Goliath). Melalui rekaman sejarah Nabi Shamu’ayl yang diabadikan dalam Al Quran secara tidak langsung, kita diberikan cetak biru absolut tentang bagaimana sebuah kepemimpinan seharusnya dirumuskan. Bukan lewat trah darah atau tebalnya kantong logistik, melainkan lewat integrasi radikal antara kapasitas keilmuan dan kekuatan fisik-mental.
Skandal Jebakan Materialisme
Sepeninggal Nabi Musa dan Yusya’ bin Nun, Bani Israil kehilangan kompas moral dan kedaulatan politik. Mereka dijajah, diusir dari tanah air mereka, dan anak-anak mereka ditawan oleh penguasa zalim bernama Jalut. Dalam keputusasaan yang akut, mereka mendatangi Nabi mereka saat itu, Shamu’ayl, meminta agar diutus seorang pemimpin militer atau raja untuk menyatukan kekuatan. Di sinilah letak ironi pertama yang sangat relevan dengan psikologi modern. Massa sering kali menuntut perubahan sistemik dan merindukan sosok penyelamat, namun mereka sendiri tidak siap dengan konsekuensi dari pilihan tersebut.
Ketika Shamu’ayl memperingatkan bahwa perjuangan membutuhkan kepatuhan mutlak dan kesiapan mental yang berat, mereka dengan jumawa menjawab bahwa mereka pasti akan bertempur karena telah kehilangan segalanya.
Namun, drama sesungguhnya baru dimulai ketika Allah menjawab doa mereka bukan dengan menunjuk seorang bangsawan kaya raya atau tokoh elit yang populer di kalangan Bani Israil, melainkan seorang pria bernama Thalut. Dalam catatan ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, Thalut adalah seorang pria dari kalangan jelata. Pekerjaannya sehari-hari adalah seorang petani atau penyamak kulit yang sedang mencari keledainya yang hilang. Ia tidak memiliki modal sosial berupa trah keluarga, juga tidak memiliki kapital finansial untuk menyuap loyalitas massa.
Ketika Nabi Shamu’ayl mengumumkan bahwa Allah telah memilih Thalut sebagai raja mereka, seketika itu juga pecah gelombang penolakan dari para elit Bani Israil. Logika oposisi mereka sangat bercorak materialistis. Mereka menggugat kelayakan kepemimpinan Thalut hanya karena ia tidak memiliki latar belakang dinasti aristokrat dan tidak memiliki harta yang berlimpah.
Ini adalah cacat logika sosiologis yang terus berulang hingga hari ini. Manusia sering kali mengukur kelayakan memimpin menggunakan parameter sekunder seperti isi dompet, garis keturunan, status sosial, atau seberapa lihai ia membangun citra di panggung publik. Bani Israil gagal memahami bahwa kekuasaan dalam konsep ketuhanan bukanlah barang dagangan yang bisa dibeli dengan modal material, melainkan sebuah amanah berat yang menuntut kualifikasi objektif.
Sinergi Kapasitas Keilmuan dan Ketangguhan Fisik-Mental
Nabi Shamu’ayl kemudian mematahkan argumentasi elit tersebut dengan menyampaikan ketetapan dari Allah bahwa Thalut dipilih karena dianugerahi kelapangan ilmu dan fisik yang perkasa. Dua pilar utama ini merupakan landasan yang dirumuskan secara eksplisit oleh Al Quran untuk menantang mitos kepemimpinan aristokratis.
Pilar pertama adalah kelapangan ilmu. Dalam konteks kepemimpinan, ilmu bukan sekadar tumpukan ijazah akademis yang diperoleh dari institusi elit tanpa substansi. Ilmu bagi seorang pemimpin adalah kemampuan mendiagnosis masalah umat secara presisi dan merumuskan solusi taktis serta strategis secara mandiri. Tanpa ilmu, seorang pemimpin hanya akan menjadi boneka yang disetir oleh kepentingan oligarki di sekelilingnya. Ia akan melahirkan kebijakan-kebijakan prematur yang justru menyengsarakan rakyat, persis seperti yang kita saksikan hari ini ketika regulasi dirancang bukan untuk melindungi warga, melainkan untuk mengamankan investasi segelintir elit.
Ilmu juga harus menjelma menjadi teladan perilaku. Retorika manis tanpa integritas moral hanyalah manipulasi psikologis. Pemimpin yang berilmu sejati tidak akan mengelabui rakyatnya dengan janji-janji palsu demi mengamankan kekuasaan personal.
Pilar kedua adalah kekuatan fisik dan mental yang digambarkan melalui postur dan daya tahan tubuh yang tangguh. Mengapa kekuatan fisik dan mental diletakkan sejajar dengan ilmu? Karena mengeksekusi kebenaran di tengah tatanan yang rusak membutuhkan nyali dan daya tahan yang luar biasa. Fisik yang prima melambangkan kapasitas kerja yang tinggi, kedisiplinan, dan ketahanan dalam menghadapi tekanan krisis yang konstan.
Sementara itu, kekuatan mental mengacu pada stabilitas emosional dan keberanian psikologis. Memimpin di tengah badai fitnah, sabotase politik, dan benturan kepentingan membutuhkan mental sekeras baja. Pemimpin yang lemah mental akan mudah berkompromi dengan kejahatan, mudah disuap, dan tak berkutik di hadapan ancaman para penjahat kerah putih. Sinergi kedua aspek ini menciptakan sosok pemimpin yang tidak hanya cerdas merancang konsep di atas kertas, tetapi juga berani turun langsung mengeksekusinya di lapangan.
Desakan Introspeksi Kolektif
Jika kita berkaca pada realitas organisasi politik, ekonomi, dan sosial hari ini, kita sedang menyaksikan benturan persepsi yang sangat melelahkan. Jargon-jargon seperti “demi rakyat kami bekerja” telah tereduksi menjadi sekadar mantra pemasaran politik untuk merayu khalayak. Kita sering kali terjebak dalam kemalasan berpikir intelektual. Kita enggan melacak rekam jejak, enggan menelisik apakah calon yang ditawarkan memiliki kapasitas keilmuan yang memadai untuk menyelesaikan krisis ekonomi, kerusakan ekologis, dan ketimpangan sosial. Akibatnya, kita terus-menerus mengulang kesalahan Bani Israil: terpukau oleh kemilau harta dan popularitas semu, lalu menangis ketika sang pemimpin ternyata adalah sosok yang lemah secara mental dan miskin secara keilmuan.
Ketidakjelian kita dalam menyaring pemimpin sesungguhnya adalah pintu masuk bagi datangnya azab sosial. Allah tidak sedang menghukum kita secara langsung dengan bencana dari langit, melainkan membiarkan kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak kompeten akibat kecerobohan pilihan kita sendiri. Kisah Thalut dan Nabi Shamu’ayl ditutup dengan kemenangan gemilang atas Jalut melalui perjuangan berat dan disiplin militer yang ketat.
Namun, kemenangan itu tidak datang secara cuma-cuma. Ia dimulai dari kesediaan kolektif untuk tunduk pada otoritas ilmu dan kekuatan nyata, mengesampingkan ego materialisme, dan melewati berbagai ujian loyalitas di sepanjang jalan.
Ada satu kaidah universal yang digariskan oleh Allah dalam Al Quran bahwa keadaan suatu kaum tidak akan berubah sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Pernyataan ini adalah sebuah dekrit mutlak tentang tanggung jawab personal dan kolektif. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan sistem atau meratapi nasib buruk jika setiap kali diberikan kesempatan memilih, kita tetap menggadaikan hak suara kita demi kompensasi finansial jangka pendek atau sekadar pesona visual yang menipu.
Berhentilah menjadi konsumen politik yang naif dan mulailah menjadi pemilih yang jeli, teliti, serta berbasis pada ukuran ilmu dan kekuatan karakter yang nyata. Hanya dengan cara itulah kita layak menyongsong masa depan yang berdaulat dan bermartabat.










